Breaking News:

Lestarikan Kopi Bogor, Pemkot Bogor Canangkan Program Budidaya Kopi di Rancamaya

Sebelumnya, dilaksanakan penandatangan antara Perumda Tirta Pakuan selaku pemilik lahan dengan KTD Pancasan Ngahiji sebagai pengelola lahan.

Editor: Mohamad Rizki
Istimewa/Pemkot Bogor
Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor bersama berbagai pihak melakukan pencanangan Penanaman Bibit Kopi Program Budidaya Kopi Berkelanjutan di Kampung Pancasan, Kelurahan Rancamaya, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Selasa (11/1/2022). 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor bersama berbagai pihak melakukan pencanangan Penanaman Bibit Kopi Program Budidaya Kopi Berkelanjutan di Kampung Pancasan, Kelurahan Rancamaya, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Selasa (11/1/2022).

Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim bersama Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko (DKMR), PT Surveyor Indonesia, Rosmanidar Zulkifli didampingi Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor, Syarifah Sofiah, Kepala BPTP Jawa Barat, Yiyi Sulaeman, kepala OPD dan Dirut Perumda Tirta Pakuan, Rino Indira Gusniawan melaksanakan penanaman bibit kopi.

Sebelumnya, dilaksanakan penandatangan antara Perumda Tirta Pakuan selaku pemilik lahan dengan Kelompok Tani Dewasa (KTD) Pancasan Ngahiji sebagai pengelola lahan.

Untuk pengembangannya ke depan akan dibantu PT Surveyor Indonesia.

Kerja sama yang terjalin dalam pemanfaatan lahan tersebut menurut Dedie, merupakan kerja sama yang luar biasa dan sedikit 'nekat' mengingat keterbatasan wilayah yang dimiliki Kota Bogor untuk menanam kopi yang membutuhkan lahan yang cukup luas.

“Tetapi ini langkah yang luar biasa dan bisa dijadikan sebagai satu upaya bersama dalam menyatukan berbagai kepentingan, seperti pelestarian alam, membudidayakan kopi Bogor dan menyandingkan dengan durian Rancamaya, membangkitkan ekonomi masyarakat, menambah identitas daerah agar dari sisi urban farming bisa terlaksana,” kata Dedie.

Saat ini Dedie berpandangan tantangan yang dihadapi Kota Bogor luar biasa, salah satunya kepadatan kependudukan yang mencapai 9.000 orang dalam 1 km persegi sehingga persoalan sosial kemasyarakatannya juga luar biasa.

Oleh sebab itu, apapun bentuk bantuan dari pemerintah pusat, BUMN atau instansi terkait menjadi satu harapan untuk mengentaskan kemiskinan, memperbaiki kondisi lingkungan, termasuk didalamnya meningkatkan perekonomian di masyarakat.

Dedie menyebut, Bogor Selatan memiliki Indeks Pembangunan Manusia (IPM) paling rendah dibanding wilayah lain di Kota Bogor.

Hal ini dikarenakan keterbatasan akses ekonomi. Bahkan, sejak tahun 1950 belum ada penambahan akses.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved