Breaking News:

BPTJ Sebut Transportasi di Jabodetabek Saat Ini Sudah Berat

Pengelolaan transportasi Jabodetabek pun, kata dia, tidak bisa dilakukan oleh satu institusi saja.

Penulis: Naufal Fauzy | Editor: Vivi Febrianti
ist/Pemkab Bogor
BPTJ Kemenhub menggelar Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi Pengelolaan Transportasi Jabodetabek di Hotel Pullman Ciawi Vimala Hils dihadiri Bupati Bogor Ade Yasin, Wali Kota Bogor Bima Arya, Wakil Walikota Tanggerang Selatan Pilar Saga Ichsan, Direktur Anggkutan Tatan Rustandi, Direktur Lalu Lintas Sigit Irfansyah dan Investigator KNKT Ahmad Wildan, Jumat (14/1). 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CIAWI - Plt Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) pada Kementrian Perhubungan (Kemenhub) Budi Setiadi mengatakan bahwa kondisi transportasi di Jabodetabek saat ini sudah berat.

Hal itu dia katakan dalam rapat bersama beberapa instansi dan pemerintah daerah Jabodetabek di Ciawi, Kabupaten Bogor, Jumat (14/1/2022).

Pengelolaan transportasi Jabodetabek pun, kata dia, tidak bisa dilakukan oleh satu institusi saja.

"Semua institusi harus terlibat dengan mengedepankan kolaborasi dan sinergi semua pihak. Karena kita melihat bagaimana pergerakan transportasi terutama di wilayah aglomerasi Jabodetabek saat ini sudah sedemikian berat," kata Budi Setiadi.

Lanjut Budi, pemerintah harus hadir dalam memberikan angkutan umum yang aman, nyaman dan murah bagi masyarakat dengan menyiapkan Buy The Service (BTS), LRT dan angkutan ramah lingkungan.

Untuk menunjang sinkronisasi pengelolaan transportasi, dirinya juga sedang memperbaiki sejumlah terminal tipe A seperti di Bukit Tinggi dan Sukabumi yang sudah diminati oleh swasta untuk dibangun dengan sebuah mall, hotel serta ekosistem yang lain.

"Terminal tipe B yang dikelola oleh provinsi, terminal tipe C yang dikelola oleh kabupaten/kota harusnya bisa setipe, tentunya dengan melibatkan pihak swasta," katanya.

Budi menuturkan bahwa dirinya juga sedang melakukan pengembangan moda transportasi ramah lingkungan, salah satunya mengkonversi kendaraan berbahan bakar minyak menjadi kedaraan listrik.

"Pengembangan moda transportasi ramah lingkungan sangat penting karena pencemaran udara oleh transportasi sudah mencapai 74 persen," ungkapnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved