Aktif Berdakwah, Petani Milenial di Bogor Ini Kembangkan Pertanian Cabai di Lahan 7000 Meter

Ia khawatir dalam waktu 10 atau 15 tahun kedepan tidak ada lagi anak muda atau kaum milenial yang mau belajar dan memahami dunia pertanian.

Penulis: Lingga Arvian Nugroho | Editor: Damanhuri
TribunnewsBogor.com/Lingga Arvian Nugroho
Petani Milenial Kota Bogor yang aktif berdakwah Riyadul Muslim (35) saat berada dilahan pertanian cabai. 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Lingga Arvian Nugroho

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Aktif melakukan syiar Islam dan mengisi dakwah dalam berbagai kegiatan, petani milenial di Bogor Riyadul Muslim (35) mengupgrade kemampuannya didunia pertanian.

Dengan mengolah lahan seluas 7000 meter persegi di wilayah Kelurahan Kayumanis, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor Riyadul kini menanam belasan ribu pohon cabai.

Ditemui TribunnewsBogor.com Riyadul bercerita awal mula ketertarikannya didunia pertanian didasari atas kekhawatirannya terhadap regenerasi petani.

Ia khawatir dalam waktu 10 atau 15 tahun kedepan tidak ada lagi anak muda atau kaum milenial yang mau belajar dan memahami dunia pertanian.

"Iya kalau tidak mulai dari sekarang masa mau nunggu nanti, karena memang bisa kita lihat dari 100 orang milenial belum tentu semuanya paham cara mengolah lahan, jangankan olah lahan mencangkul saja mungkin tidak tahu, dari situ kemudian saya tertarik untuk belajar dan terjun di dunia pertanian," ujar pria yang akrab disapa OI.

Sebagai milenial yang tinggal diperkotaan, Riyadul menyadari bahwa lahan pertanian semakin berkurang serta minim regenerasi.

Dari keprihatinan itu kemudian Ia melihat rupanya ada potensi yang memiliki banyak manfaat dibidang pertanian.

"Saya melihat di dunia pertanian ini ada basis potensi ekonomi yang menjanjikan, selain kita bisa melakukan budidaya pertanian kita juga bisa mengembangkan potensi agribisnisnya," katanya.

Dilahan 7000 meter persegi ini OI menanam sekitar 11.000 pohon cabai dengan sistem tumpang sari.

Sistem tumpang sari dilakukan di lubang pohon cabai yang tidak maksimal.

Sehingga kata OI, lubang yang tidak terpakai bisa digunakan untuk menanam tanaman lain seperti yang dilakukannya dengan menanam paria.

"Jadi kita juga bisa menekan ongkos produksi, hasil utamanya adalah cabai hasil tambahannya paria," katanya.

Alasannya memilih bertania cabai dikarenakan cabai merupakan salah satu jenis sayuran atau bahan makanan yang berpengaruh terhadap inflasi.

Ketika terjadi gangguan pertanian ataupun ketersediaan pasokan harga cabai sering kali melambung tinggi

Dengan adanya pasokan cabai dari dalam kota itu bisa membantu pemerintah menekan inflasi dan memenuhi kebutuhan pasar.

"Kita harap di Kota Bogor ditengah keterbatasan lahan ini generasi mudanya generasi milenialnya turut membangun pertanian perkotaan bersama untuk memberikan banyak manfaat," katanya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved