IPB University
Wakil Bupati Orideko I Burdom : Biar Raja Ampat Mahal Terus
Wakil Bupati Raja Ampat Orideko I Burdom ogah menurunkan rate wisata di Raja Ampat, Papua.
Penulis: Ardhi Sanjaya | Editor: Vivi Febrianti
TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Wakil Bupati Raja Ampat Orideko I Burdom ogah menurunkan rate wisata di Raja Ampat, Papua.
Orideko berkukuh membiarkan wisata Raja Ampat tetap mahal.
Ia mengaku sebelumnya sempat berpikir untuk menyetujuji konsep wisata murah di Raja Ampat.
"Kita ada berpikir itu. tapi hari ini saya mau katakan Raja Ampat itu mahal. Raja Ampat itu salah satu bidadari," kata Orideko saat menghadiri aksi bersih pantai yang digelar Bappenas-ICCTF dan PKSPL IPB di Patai WTC pada Rabu (9/2/2022).
Awalnya sempat muncul wacana soal wisata murah di Raja Ampat.
Konsep itu diusung dengan memberdayakan masyarakat setempat untuk membuat sebuah paket wisata berstandar internasional.
Caranya, dengan menerapkan standar yang sudah ada dalam konsep yang sederhana.
Seperti membuat home stay dengan standar sesuai kenyamanan wisatawan, serta memberdayakan masyarakat lokal sebagai pelaku usahanya.
Meski begitu, Orideko menilai bila nantinya ada wisata murah lalu mengundang banyak wisatawan, kelestarian alam Raja Ampat tidak bisa terawat hingga mengakibatkan kerusakan.
"Kalau kita mau bikin murah, saya takut Raja Ampat itu akan rusak, biar sudah kami mahal terus. harga diri kami mahal, makanya ditempuh dengan harga yang mahal terus. itulah kami. Datang jauh-jauh cuma harga diri kami murah, harga diri kami mahal, Raja Ampat mahal. karena kalau kita buka dia wisata lokal yang murah kami akan negatif banyak. budaya kami kuat maka kami masih jaga," katanya.
Menurutnya, saat ini saja baru sebagian wilayah dibuka untuk wisata sudah banyak kerusakan yang terjadi.
"Hari ini baru kita buka separo-separo saja Raja Ampat sebagian sudah rusak. makanya biarkan saja Raja Ampat mahal," tegasnya.
Baca juga: IPB Gelar Aksi Bersih Pantai, Masyarakat Termotivasi Jaga Raja Ampat Bersih dari Sampah
Ia menerangkan Raja Ampat mahal karena memerlukan biaya pengeluaran yang banyak.
Belum lagi biaya transportasi yang hingga kini harganya masih membumbung.
"Jangkauan tempat wisata jauh, terus di Raja Ampat transportasi laut buruh bbm mahal, makanya biaya di raja ampat dari kota sampai raja ampat saya kira murah, dari raja ampat sendiri yang mahal," katanya.
Orideko I Burdom menerangkan pihaknya juga sudah menerapkan sistem home stay untuk wisatawan.
Hanya saja sejak adanya pandemi, home stay di Raja Ampat menjadi tak terawat karena sepi pengunjung.
"Kami lagi benahi, karena covid kemarin home stay banyak tidak ada pemeliharaan sehingga ya begitulah. Sekarang pemerintah ada perhatian untuk perbaikan home stay, terus bagaimana kita kasih motivasi lagi untuk homes stay supaya turis masuk lagi mereka bisa berkembang lagi," kata Orideko I Burdom.
Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Dr. Ir. Fredinan Yulianda, M.Sc. juga sempat mencanangkan kemungkinan munculnya paket wisata murah di Raja Ampat.
Teorinya sama seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, yakni dengan memberdayakan masyarakat untuk membuat home stay berstandar wisata.
Menurut Fredinan, pernyataan Wakil Bupati Raja Ampat memiliki pendekatan yang berbeda.
"Dilihat dari value sumber daya sama kemampuan bayar turis, nah itu beda pendekatannya. Kemampuan bayar itu kan. Saya bilang untuk penyesuaian kemampuan bayar masyaraat. Sehingga dia memilih gak usah di resort, di home stay (saja)," kata Fredinan.
Baca juga: Ironi Mencari Penerus Pelaku Wisata di Raja Ampat, Kuliah Susah Sinyal hingga Tak Punya Perpus
Ia pun tak memungkiri biaya untuk ekowisata memang cukup mahal karena harus menghitung biaya pemulihan sumber daya alamnya.
"Biaya tertentu itu bisa saja dipertahankan mahal, cuma jangan digeneralisasikan," katanya.
Mahal yang dimaksud Orideko ialah dengan menjadikan Raja Ampat sebagai wisata eksklusif.
Namun menurut Fredinan, jangan kesan eksklusif yang disematkan justru membuat wisatawan lain menjadi enggan datang ke Raja Ampat.
"Mahal itu ketika berikan ekslusif pada pengeunjung yang dibatasi jumlahnya. kompensasi yang dibatasi itu kan jadi mahal. Jangan sampai mahal itu kesannya orang jadi jauh datang ke sini. itu beda pemahamannya," kata Fredinan.
Pemerintah Raja Ampat mengaku mengaplikasi konsep home stay untuk menjadi pilihan wisatawan selain resort.
Namun konsep tersebut, kata Fredinan, justru membuat Pemerintah setempat takut kehilangan kesan mahal.
"Yang dia khawatirkan dia kehilangan mahalnya itu dari pengunjung. dia pengen Raja Ampat tetap eksklusif, ekslusif menurut dia identiknya dengan mahal nah itu yang kelirunya di situ," ujarnya.
Wisata Raja Ampat saat ini menjadi terbilang mahal karena ditambah dengan biaya transportasi pesawat.
Baca juga: Penyebab Tarif Wisata Raja Ampat Mahal, IPB Dorong Masyarakat Terapkan Standar Sederhana
"Murah itu di internal area. itu di luar area transportasi," katanya.
Terkecuali, bila nantinya pemerintah daerah mau menerapkan strategi subsidi khusus untuk wisatawan Raja Ampat.
"Kecuali ada strategi pemda yang subsidi untuk penumpang yang khusus tujuannya wisata, itu ada kebijakan daerah. kalau dia mau. tapi jarang sekali. pernah dilakukan pemerintah Sabang. pesawat dari Medan ke Sabang langsung, nah ini dibuka supaya murah, Medan langsung ke Sabang. penumpang sedikit tiket jadi mahal, pemda Sabang subsidi ke Garuda. supaya akses itu terbuka pengunjung jadi datang. itu strategi, menjadi pilihan bagi pemda," kata Fredinan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/wakil-bupati-raja-ampat-orideko-i-burdom-saat-aksi-bersih-pantai.jpg)