Gerobak Reyot Berwarna Merah Sumber Rezeki Kakek di Bogor, Dulunya Sempat Ditegur Bima Arya

Usia senja tak menyurutkan tekad Endang Kosasih (62) untuk mengais rezeki guna dapat bertahan hidup.

TribunnewsBogor.com/Siti Fauziah Alpitasari
Aktivitas Endang Kosasih saat di pekarangan rumahnya pada Senin (14/3/2022). 

Laporan Wartawan Tribunnewsbogor.com, Siti Fauziah Alpitasari

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Usia senja tak menyurutkan tekad Endang Kosasih (62) untuk mengais rezeki guna dapat bertahan hidup.

Dengan semangat membara, Endang Kosasih mendorong gerobak sebagai tempat menampung barang tak terpakai yang kemudian akan dijualnya nanti.

Beruntung, Endang Kosasih memiliki seorang istri bernama Ila dan tiga buah hati yang pengertian sehingga profesi pengepul barang bekas bukan suatu aib yang harus ditutupi.

Bahkan, tak segan istri dan ketiga anaknya itu ikut membantu perjuangan kakek berusia 62 tahun tersebut.

Hari ini, Senin (14/3/2022), Ila (istri Endang), terlihat memunguti botol bekas yang berada disekitaran pekarangan rumahnya di Gang Paraji atau Jalan Fakultas Bogor Tengah, Tegallega, Kota Bogor.

Gerobak reyot berwarna merah yang sudah luntur itu menjadi alat bagi Endang untuk menghidupi istri dan anak-anaknya.

Pria yang akrab disapa Endang itu hanya bisa berkomunikasi jika dengan sautan suara besar dan artikulasi yang jelas.

Meski pendengarannya sudah tidak lagi berfungsi dengan baik, ia tetap tak kenal lelah untuk menjalani aktivitasnya sebagai pemulung ataupun seorang badut demi menghidupi keluarganya.

Menurut Ila sang istri, suaminya itu membawa anak-anak memulung menggunakan gerobak setiap hari Jumat, Sabtu, dan Minggu saja.

“Saya sempat ditegor pak Bima, sama bawahannya. Katanya jangan bawa anak-anak ya,” tutur Ila, istri dari Endang Kosasih pada Senin (14/3/2022).

Ia memastikan bahwa anak-anaknya itu tidak dipaksa untuk ikut bersama Endang dalam menjalani aktivitasnya.

“Mereka justru yang mau, soalnya suka dapet uang katanya lumayan buat jajan,” jelasnya lagi.

Ia mengaku, tidak bisa mengandalkan hasil pulungan suaminya itu. Namun anak pertamanya yang berada di Belitung sering mengirimi uang untuk kebutuhannya, meskipun tidak terpenuhi.

“Biasanya nunggu tiga bulan dikumpulin dulu botol-botol, sama kardus itu juga cuman dapet 1,5 juta, botol beling aja Rp 200 perak/kg,” terang Ila kepada Tribunnewsbogor.com

Kendati demikian, hal itu tak menyurutkan semangat Endang untuk bangkit dari keterpurukan.

Ia memiliki cita-cita untuk mengumpulkan modal, dan membangun warung di rumahnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved