Memperingati Hari Teater Dunia, Komunitas Seba Bogor Sebut Anak Muda Kini Mengalami Krisis Identitas

Komunitas Seba (Seni Berbagi), mengadakan diskusi dengan tema Puisi dan Segelas Kopi di Saung Jurasep, Jalan Villa Ciomas, Kecamatan Ciomas.

Penulis: Muamarrudin Irfani | Editor: Yudistira Wanne
TribunnewsBogor.com/Muamarrudin Irfani
Komunitas SEBA (Seni Berbagi) Diskusi Budaya 

"Kita ingin memotret keadaan kita sekarang, kalo bisa kita mempertahankan apa yang baik dan apa yang diwariskan dari generasi terdahulu," ungkapnya.

Ia memberikan contoh kecil dari nilai budaya yang dimaksudkan sudah berubah.

"Contohnya, sekarang kita kalo lewat engga nyenggol orang gaakan ngomong apa-apa, kalo nyenggol orang baru kita akan ngomong maaf atau permisi, padahal dulu orang mau lewat walaupun masih jauh itu pasti permisi engga harus nyenggol dulu," jelasnya.

Untuk mengantisipasi degradasi budaya lebih lanjut, cara palinh utama adalah memperbaiki sistem sosial saat ini.

"Yang bermasalah ini sistem sosial, kita harus kembali kepada sistem sosial pada masa lalu, tidak individualis," tandasnya.

"Contoh lagi, seorang anak dulu dididik dengan orang sekampung, kalo salah dinasehatin sama tetangganya, kalo sekarang beda, anaknya dibilangin pasti orang tuanya marah, seharusnya kita itu tidak boleh marah jika di tegus oleh tetangga, selagi itu benar yang disampaikannya," tambahnya.

Pesan yang ingin disampaikan untuk generasi penerus atau Milenial saat ini untuk harus melestarikan nilai-nilai norma dan etika yang baik dan benar.

"Harapan kepada generasi penerus. Kalau kita mempeleajari sistem budaya, maka kita akan tau mana yg ideal dan yg perlu kita lestarikan," terangnya.

"Kita kembali pada sesuatu yg baik yg sudah ada, kita harus punya formasi logika benar salah, formasi etika baik dan tidak, formasi estetika yg indah dan tidak," tambahnya lagi.

Menurutnya, saat ini generasi penerus mengalami krisis identitas.

"Generasi sekarang dari akar budaya, tidak lagi menjadi orang sunda, tidak lagi orang jawa, tidak lagi orang Indonesia, cara berfikir bukan Indonesia lagi, tatakramanya bukan orang Indonesia lagi," terangnya.

Lebih lanjut, ia menuturkan saat ini degradasi yg terjadi sangat luar biasa, dan harus di kembalikan lagi kedalam sistem nilai yang baik dan indah.

"Sekarang kan menjadi internasional tidak, menjadi lokal juga tidak, Karna kita tidak tau sistem lokal, tidak tau juga sistem barat," katanya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved