IPB University

Stunting Masih Jadi Masalah Besar di Indonesia, Pakar IPB University Ungkap Cara Menanganinya

Posisi keluarga sebagai unit penentu pengambilan keputusan pengelolaan sumberdaya ternyata luput dari perhatian.

Editor: Tsaniyah Faidah
SHUTTERSTOCK via kompas.com
Keluarga sebagai basis pertama kehidupan anak berperan besar dalam pemastian pola asuh, akses terhadap makanan, serta penjagaan dari infeksi dan penyakit termasuk stunting. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Stunting masih menjadi masalah besar dan hutang bagi pembangunan manusia di Indonesia.

Keluarga sebagai basis pertama kehidupan anak berperan besar dalam pemastian pola asuh, akses terhadap makanan, serta penjagaan dari infeksi dan penyakit termasuk stunting.

Prof Euis Sunarti, Guru Besar Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB University menjelaskan, bahwa program penanganan stunting perlu diperhatikan mulai dari keluarga.

Menurutnya, penguatan keluarga serta implikasinya dalam kebijakan program pemerintah penting menjadi perhatian serius.

Berdasarkan hasil kajian Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), kegagalan pembangunan di berbagai negara berkembang diakibatkan terbatasnya upaya yang menekankan perubahan di tingkat individu.

Posisi keluarga sebagai unit penentu pengambilan keputusan pengelolaan sumberdaya ternyata luput dari perhatian.

“Keluarga seringkali dianggap sebagai lapisan tersembunyi di antara individu dan masyarakat. Padahal, keluarga bukan sekedar kumpulan individu semata, melainkan merupakan sistem yang memiliki nilai dan tujuan yang hendak diwujudkan,” kata Prof Euis Sunarti, pakar keluarga dari IPB University.

Ia melanjutkan, keluarga akan menjadi institusi pertama pembangun manusia yang sehat, bergizi, dan berkualitas.

“Aturan yang ada juga harus mendukung keluarga dalam melaksanakan peran, fungsi, dan tugasnya. Keluarga harus dipandang sebagai basis terhadap kebijakan publik," jelasnya.

Ia juga menyebut, perluasan kesempatan kerja bagi kepala keluarga penting diperhatikan.

Sehingga, kepala keluarga mampu mensejahterakan seluruh anggota keluarganya.

Tidak hanya itu, alternatif pekerjaan bagi perempuan disediakan untuk tetap dapat berbagi waktu, tenaga dan pikiran.

Pekerjaan bagi perempuan hanya bersifat pilihan sehingga pengasuhan terhadap anak tidak terabaikan.

Sebagai ahli keluarga, Prof Euis Sunarti menambahkan, peningkatan dukungan terhadap pengasuhan anggota keluarga terbukti mampu meningkatkan status gizi balita.

Penelitian ini dilakukan pada 132 ibu dan balita usia di bawah tiga tahun di wilayah Bogor.

“Penelitian lain yang dilakukan terhadap 500 keluarga pemetik teh menunjukkan peningkatan ketahanan keluarga dan kualitas pengasuhan mampu meningkatkan status gizi anak. Artinya, pendekatan berbasis ekosistem keluarga ini penting diperhatikan,” imbuhnya.

Dosen IPB University itu menambahkan, keluarga merupakan sistem lintasan individu dengan masyarakat sehingga keinginan untuk meningkatkan kualitas individu berkaitan dengan ketahanan keluarga.

Menurutnya, apabila keluarga berketahanan, tentu tidak menginginkan ada diantara anggota keluarganya mengalami masalah.

Selanjutnya, program rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana pernah dilakukanya.

Pemberian Makanan Tambahan (PMT) disertai stimulasi tumbuh kembang anak dilakukan pada korban gempa bumi di Provinsi Jawa Barat.

Program ini melibatkan 67 kader posyandu di 18 lokasi pemberian makanan tambahan. Indikator keberhasilan program diukur dari peningkatan kepedulian terutama ibu dan kader posyandu pada anak.

“Stunting merupakan persoalan multidimensi yang berkaitan dengan lintas disiplin. Kondisi ini menuntut kita untuk segera melakukan peningkatan intensitas dan efektivitas pembangunan keluarga. Penanganan stunting harus dilakukan secara holistik dengan rancangan serta metode pendekatan yang tepat berdasarkan kajian-kajian yang sudah ada,” tegasnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved