Kembali ke Masjid

Sejarah Masjid Al-Islah Rumpin, Jadi Saksi Penyebaran Agama Islam, Beridiri Sejak Tahun 1870

Masjid Al-Islah merupakan masjid yang menjadi saksi bisu saat penyebaran agama Islam di Rumpin, Kabupaten Bogor.

Tribunnewsbogor.com/Siti Fauziah Alpitasari
Masjid Al-Islah Rumpin, Kabupaten Bogor, Senin (4/4/2022). 

Laporan Wartawan Tribunnewsbogor.com, Siti Fauziah Alpitasari

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, RUMPIN - Masjid Al-Islah merupakan masjid yang menjadi saksi bisu saat penyebaran agama Islam di Rumpin, Kabupaten Bogor.

Penyebaran Islam di Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor ini diperkirakan masuk pada sekitar tahun 1870.

Hal tersebut dibuktikan dengan adanya Masjid Al-Islah yang beridiri sekitar tahun 1870.

Di sisi lain, sebelumnya masyarakat Rumpin bagian Selatan, masih menganut kepercayaan dengan arwah leluhurnya.

“Ajaran tersebut secara perlahan eksistensinya semakin tergeser, sehingga banyak masyarakat yang mulai masuk Islam, saat itu,” tutur pemerhati Rumpin, Mulya Diva, kepada TribunnewsBogor.com, Senin (4/4/2022).

Kang Ozos, sapaan akrabnya mengaku, kedatangan ulama asal Banten tersebut memperkenalkan agama Islam kepada masyarakat Kecamatan rumpin, bagian Selatan.

Tubagus Martam, kehadirannya sangat berperan penting dalam penyebaran agama Islam, khususnya di Kecamatan Rumpin.

“Menurut keterangan dari sesepuh, bahwa Tubagus atau Abah Martam sengaja datang ke Rumpin bagian Selatan. Kedatangannya tiada lain, untuk menyiarkan agama Islam,” ujar kang Ozos.

Ozos menuturkan bahwa sebelum menjadi Kampung Gobang, dulunya bernama Kampung muntilan, namun entah kenapa, kampung tersebut menjadi Kampung Gobang.

Versi lain gobang, disebut dari uang belanda atau uang gobang, versi lain ada yang menyebut dari sebuah golok yang bernama gobang.

“Nama gobang dipakai nama desa. Ya itu Desa Gobang. Masjid tersebut sekarang bernama Masjid Al-Islah yang berada di Kampung Gobang RT02/01, Kecamatan Rumpin,” kata dia.

Ozos menyebutkan cerita yang ia dapat dari ketua DKM Masjid Al-Islah bernama KH Asep Jamaludin, bahwa selain berdakwah, Abah Martam sendiri mendirikan sebuah Masjid yang dibangun pada tahun 1870.

“Masjid tersebut pertama kali hanya terbuat dari anyaman bambu atau bilik saat pertama ada. Setelah dari bilik, Masjid tersebut ditembok atau dilakukan pembangunan secara permanen, bahkan tembok dingdingnya saat itu tersebut sangat besar,” lanjutnya.

Namun pada tahun 1979 Masjid dilakukan rehab yang pertama kali.

Lalu pada 7/12/1979 masjid selesai dibangun, saat itu pakai satu buah menara dan satu buah kubah yang dibangun ditengah bagian masjid.

“Selanjutnya pada tahun 1994 Masjid tersebut, dipugar kembali dari awal, dengan pemasangan pondasi. Hal itu dengan seiringnya jumlah jamaah yang semakin meningkat,” jelasnya lagi.

Masjid Al-Islah sendiri jika dilihat dari bentuknya tidak ada filosofi, namun jika dilihat dari jumlah tiang masjid, terdapat 17 tiang, untuk depan masjid berjumlah lima tiang, yang tengah masjid berjumlah ada empat tiang.

“Dengan adanya lima jumlah tiang tersebut, mengambarkan jumlah rukun islam serta jumlah sholat lima waktu, namun jika dihitung dengan jumlah total ada 17 tiang, artinya jumlah dalam rakaat sholat,” tandasnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved