Hari Jadi Bogor Jatuh Pada 3 Juni 1482, Ini Sejarahnya
Hari Jadi Bogor ini diperingati warga Bogor setiap tanggal 3 Juni, lalu apa istimewa tanggal tersebut ?
Penulis: Naufal Fauzy | Editor: Damanhuri
Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy
TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CIBINONG - Hari Jadi Bogor (HJB) tahun 2022 telah mencapai usia 540 tahun.
Hari Jadi Bogor ini diperingati warga Bogor setiap tanggal 3 Juni, lalu apa istimewa tanggal tersebut ?
Hal ini tak lepas dari sejarah kerajaan di Bogor yang sudah ada lebih dari 500 tahun lalu.
Menurut paparan yang dirilis Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Bogor, Hari Jadi Bogor ini bermula dari dilantiknya Sri Baduga Maharaja sebagai Raja Pajajaran pada 3 Juni 1482 silam.
Baca juga: Ade Yasin Ditangkap KPK, Pejabat di Kabupaten Bogor Peringati HJB ke-540 Datang ke Makam
Saat itu digelar Upacara Kuwedabhakti yang dirayakan warga dan kerajaan kala itu sampai berhari-hari.
"Sejak saat itulah 3 Juni ditetapkan menjadi Hari Jadi Bogor yang secara resmi ditetapkan melalui sidang Pleno DPRD Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor pada 26 Mei 1972," kata Kadiskominfo Kabupaten Bogor, Bayu Rahmawanto, Selasa (31/5/2022).
Sejarah Kerajaan Pajajaran
Menurut catatan sejarah yang dirangkum Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor, berdirinya Kerajaan Pajajaran tak lepas dari Pakuan Pajajaran sebagai ibu kota yang belokasi di wilayah Kota Bogor.
Dalam naskah Carita Waruga Guru (1750-an) diterangkan bahwa nama Pakuan Pajajaran didasarkan bahwa di lokasi tersebut banyak terdapat pohon Pakujajar.
Lalu K.F. Holle (1869) dalam tulisan berjudul De Batoe Toelis te Buitenzorg (Batutulis di Bogor), disebutkan bahwa di dekat Kota Bogor terdapat kampung bernama Cipaku beserta sungai yang memiliki nama yang sama.
Di sana banyak ditemukan pohon paku jadi menurut Holle, nama Pakuan ada kaitannya dengan kehadiran Cipaku dan pohon paku.
Pakuan Pajajaran berarti pohon paku yang berjajar (op rijen staande pakoe bomen).
G.P. Rouffaer (1919) dalam Encyclopedie van Niederlandsch Indie edisi Stibbe tahun 1919 menyebut, Pakuan mengandung pengertian 'paku', akan tetapi harus diartikan 'paku jagat' (spijker der wereld) yang melambangkan pribadi raja seperti pada gelar Paku Buwono dan Paku Alam.
Nama 'Pakuan' menurut Fouffaer setara dengan 'Maharaja' dan kata 'Pajajaran' diartikan sebagai 'berdiri sejajar' atau 'imbangan' (evenknie).
Baca juga: HJB ke-540 Usung Tema Abhinaya Satya Lestari, Ini Maknanya
Dia juga sependapat dengan Hoesein Djajaningrat (1913) bahwa Pakuan Pajajaran didirikan tahun 1433.
R. Ng. Poerbatjaraka (1921) dalam tulisan De Batoe-Toelis bij Buitenzorg (Batutulis dekat Bogor) dijelaskan bahwa kata 'Pakuan' mestinya berasal dari bahasa Jawa kuno 'pakwwan' yang kemudian dieja 'pakwan' (satu 'w', ini tertulis pada Prasasti Batutulis).
Dalam lidah orang Sunda kata itu akan diucapkan 'pakuan'. Kata 'pakwan' berarti kemah atau istana, jadi Pakuan Pajajaran menurut Poerbatjaraka berarti 'istana
yang berjajar' (aanrijen staande hoven).
H. Ten Dam (1957) sebagai Insinyur Pertanian, Ten Dam ingin meneliti kehidupan sosial-ekonomi petani Jawa Barat dengan pendekatan awal segi perkembangan sejarah.
Dalam tulisannya, Verkenningen Rondom Padjadjaran (Pengenalan sekitar Pajajaran), pengertian 'Pakuan' ada hubungannya dengan 'lingga' (tonggak) batu yang terpancang di sebelah prasasti Batutulis sebagai tanda kekuasaan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/Logo-Hari-Jadi-Bogor-HJB-ke-540-tahun-2022-Kabupaten-Bogor.jpg)