Cegah Paham Radikal dan Terorisme, BNPT Minta Masyarakat Paham Seni Budaya

Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol R Ahmad Nurwahid menilai pemanfaatan seni dan budaya dapat menangkal

Editor: Yudistira Wanne
Istimewa
Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol R Ahmad Nurwahid menilai pemanfaatan seni dan budaya dapat menangkal pola penyebaran paham radikal dan terorisme. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol R Ahmad Nurwahid menilai pemanfaatan seni dan budaya dapat menangkal pola penyebaran paham radikal dan terorisme.

“Peran seni budaya sangat efektif, karena kalau kita lihat dari perspektif radikalisme dan terorisme, tidak bisa parsial. Karena orang radikal itu memiliki karakter kontrol emosional yang labil, jiwanya tidak lembut, hatinya keras, lebih mengedepankan simbol-simbol keagamaan dan lebih mengutamakan ritualitas keagamaan," ujarnya, Kamis (2/6/2022).

"Nah dengan membangun atau menggelorafikasi untuk mencintai seni dan budaya melalui event seperti ini tentunya harapan kita masyarakat akan mencintai bangsa dan negaranya” sambungnya.

Lebih lanjut, Nurwakhid menjelaskan kelompok radikal cenderung anti dengan seni dan kebudayaan. 

“Kelompok teroris itu anti dengan seni dan budaya serta kearifan lokal. Hatinya keras, makanya kita harapkan dengan pendekatan seni budaya seperti ini, masyarakat Indonesia, khususnya di Magelang ini tergerak untuk mencintai seni dan budaya," bebernya.

"Karena dengan seni dan budaya akan melembutkan hati, akan membuat jiwa menjadi penuh kasih sayang, sehingga akan terbangun toleransi serta kebhinekaan dan keberagaman” sambungnya.

Nurwakhid menambahkan, kecintaan terhadap seni dan budaya lokal pun harus diiringi dengan keterbukaan terhadap budaya lain. 

“Harapan kita pada generasi muda pada khususnya, apakah itu generasi milenial, generasi Z, ataupun para penggiat budaya, penggiat seni, untuk mencintai seni dan budaya bangsanya. Walapun di era transparansi dan di era globalisasi ini banyak masuk budaya atau pengaruh asing,” ungkapnya.

Oleh karena itu dirinya meminta kepada masyarakat utamanya kaum moderat untuk menyikapi dengan bijak, bukan menolak, tapi justru menyambut dan kalau bisa mengkolaborasikan antara budaya nusantara dan budaya asing.

 “Karena perbedaan itu sunattullah, dan harus sikapi dengan untuk saling mengenal,sehingga kita saling menghormati, saling menyayangi,saling melengkapi dan saling memanusiakan sesame manusia” ungkap mantan Kadensus 88, Polda DIY.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved