Ingatkan Bahaya Rokok, Bima Arya : Bisa Mengganggu Kesejahteraan Ekonomi Keluarga

Hal tersebut dikatakan langsung saat acara Perayaan Hari Tanpa Tembakau Sedunia beberapa waktu lalu.

Penulis: Rahmat Hidayat | Editor: Vivi Febrianti
TribunnewsBogor.com/Rahmat Hidayat
Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto saat mengelar perayaan Hari Anti Tembakau Sedunia 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Rahmat Hidayat

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto sebut bahaya merokok tidak hanya menimpa kesehatan tetapi menimpa kesejahteraan perekonomian keluarga.

Hal tersebut dikatakan langsung saat acara Perayaan Hari Tanpa Tembakau Sedunia beberapa waktu lalu.

"Merokok bukan soal kesehatan saja yang terganggu. Tapi, soal kesejahteraan ekonomi keluarga yang merokok pun terganggu," ungkap Bima Arya.

Gangguan itu, Bima Arya rincikan, dilihat dari data perokok yang ada.

Dari data yang disebutkannya, saat ini persentase perokok di Kota Bogor mencapai persentase puluhan.

"Kalau datanya kita fokuskan kepada ekonomi ke bawah, datanya pasti mengerikan.

"Persentasenya 40 % memulai rokok karena stres. Ketika saya dalami datanya stresnya kenapa ditemukan 20 % stres karena pekerjaan. Sisanya stres karena rumah tangga," jelas Bima Arya.

Meski begitu, tegas Bima Arya, Pemkot Bogor terus lakukan tiga hal dalam mengatasi rokok di Kota Bogor ini salah satunya dengan menguatkan Perda No 10 Tahun 2018 tentang Kawasan Tanpa Rokok ( KTR).

"Kalau kita lihat kebijakan yang sukses itu pasti dicirikan 3. Satu ada konsistesi, kolaborasi, dan inovasi. Diantara semua yang paling lumayan menurut saya isu tentang KTR ini. Ada konsistensi disitu.  Selalu diingatkan. Kita sudah buat pagar nya. Ada komunitas, kementerian pun selalu mereward. Jadi ada konsistensi," tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor Sri Nowo Retno menjelaskan banyak dukungan yang kuat dari masyarakat Kota Bogor terhadap Perda KTR, bahkan ditemukan penurunan jumlah perokok di area KTR

"Berdasarkan hasil pantauan berkala yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Bogor, 77 % masyarakat masih menemukan perokok di dalam tempat makan atau restoran.

"Komitmen dan kolaborasi antara Pemkot dan PHRI dan ini diharapkan tidak hanya menaikkan tingkat kepatuhan KTR di restoran dan tempat makan tapi juga dalam jangka panjang dapat membantu menurunkan prevalensi perokok Kota Bogor yang masih lebih dari 44,5 % atau sekitar 446.325 jiwa," jelas Sri Nowo Retno, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved