Polbangtan Bogor

Lakukan Penelitian, Polbangtan Bogor Kementan Perkuat Kapasitas Ekonomi Petani di Pulang Pisang

Syahrul Yasin Limpo menyatakan bahwa sektor pertanian harus didorong menjadi subsektor ekonomis yang maju, mandiri dan modern. 

Istimewa/Polbangtan Bogor
Tim peneliti dosen dari Polbangtan Bogor melakukan penelitian untuk penguatan kapasitas Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) dengan metode survey melalui kuesioner, validasi dan verifikasi, serta Focus Group Discussion (FGD). 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor sebagai instansi pendidikan tinggi vokasi pertanian, melaksanakan fungsi salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu melakukan penelitian untuk pemberdayaan masyarakat.

Penelitian kali ini diambil di salah satu lokasi Food Estate, program dari Kementerian Pertanian, yaitu di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. 

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo menyatakan bahwa sektor pertanian harus didorong menjadi subsektor ekonomis yang maju, mandiri dan modern. 

“Berharap hasil penelitian dan rekayasa teknologi dapat diadopsi pada sektor pertanian dan sektor industri serta dapat dimanfaatkan untuk mendukung Program Strategis Kementan,” ujar Mentan Syahrul Yasin Limpo.

Sementara itu, Dedi Nursyamsi selaku Kepala BPPSDMP optimis bahwa pendidikan vokasi Kementan dapat melakukan fungsinya mengabdi pada masyarakat.

“Untuk itu berbagai hasil penelitian diaplikasikan untuk meningkatkan produktivitas tanaman pertanian," kata Dedi Nursyamsi.

Tim peneliti dosen dari Polbangtan Bogor yang diketuai oleh Yoyon Haryanto ini mengambil tema penguatan kapasitas Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) dengan metode survey melalui kuesioner, validasi dan verifikasi, serta Focus Group Discussion (FGD).

Yoyon mengatakan, bahwa Kelembagaan Ekonomi Petani diambil sebagai topik karena merupakan salah satu penopang keberhasilan pertanian.

“Upaya melembagakan ekonomi petani dan keberhasilan organisanya, dilihat dari KEP-nya. Sehingga disinyalir dapat menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan program food estate," ungkapnya.

Yoyon menambahkan, bahwa hasil dari penelitian ini diharapkan agar nantinya dapat mempertahankan keberlanjutan dalam pengorganisasian petani.

“Hasil penelitian memberikan kepercayaan bahwa program food estate yang telah dilakukan dan saat ini masih terus berlangsung memberikan manfaat bagi masyarakat pertanian, terutama kelompok-kelompok tani yang terlibat," imbuhnya. 

Lokasi kunjungan verifikasi dan validasi pada penelitian ini dilakukan di Desa Belanti Siam, Kecamatan Pandih, Kalimantan Tengah, yang merupakan Kawasan Food Estate sesuai dengan program yang dicanangkan oleh Kementerian Pertanian. 

Dari sisi kelembagaan ekonomi, keberadaan KEP turut mendukung keberhasilan program food estate ini. Inisiasi KEP bertumbuh dan berjalan seiring dengan kebutuhan pengelolaan input sarana produksi (saprodi) dan pasca produksi pertanian. 

Dari sisi produksi, Kawasan Food Estate yang utamanya komoditas padi yang dibudidayakan menghasilkan produksi padi rata-rata tertinggi sampai 7 ton/ha GKP. 

Ketua peneliti, Yoyon Haryanto, didampingi anggota peneliti, Aminudin dan Titis Pury Purboningtyas selain melakukan penelitian di lapangan (Belanti Siam, red), juga memberikan penyuluhan dan pendampingan terkait dengan pentingnya kelembagaan ekonomi petani dan penanganan pascapanen padi. Kelanjutan dari hasil kajian KEP nantinya, akan menjadi bahan diskusi lanjut dan FGD dengan melibatkan stakeholder terkait.(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved