IPB University

Atasi Ancaman Hama Tikus Bagi Padi Sawah, Pakar IPB University Kasih Solusi Ini

Pakar IPB University menjelaskan bahwa berdasarkan relief pada Candi Borobudur, menunjukkan bahwa tikus sudah menjadi hama padi sejak dulu kala.

Editor: Tsaniyah Faidah
Net
Ilustrasi - Pakar IPB University menjelaskan soal cara mengatasi hama tikus yang mengganggu pertanian. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Hama tikus masih menjadi ancaman bagi pertanian Indonesia.

Tindakan pengendalian terpadu merupakan jalan keluar yang dianggap cocok untuk menekan kehilangan hasil.

Dr Swastiko Priyambodo, Dosen IPB University dari Departemen Proteksi Tanaman – Fakultas Pertanian menjelaskan bahwa berdasarkan relief pada Candi Borobudur, menunjukkan bahwa tikus sudah menjadi hama padi sejak dulu kala.

Artinya, kata dia, hingga kini hama tikus mampu bertahan dan melawan setiap tindakan pengendalian.

Dalam manajemen tikus, dosen IPB University itu menjelaskan bahwa terdapat tiga kata kunci.

Pertama, keterpaduan berbagai metode pengendalian mulai dari sanitasi, kultur teknis, fisik, mekanis, biologi dan kimia yang dipadukan dan kompatibel.

Kedua adalah kebersamaan dalam pengendalian populasi hama tikus sawah. Ketiga adalah keberlanjutan, maksudnya, upaya pengendalian pada setiap musim tanam terus dilakukan.

Pakar tikus dari IPB University itu melanjutkan, manajemen populasi tikus secara non kimia tapi toksik biasanya menggunakan protozoa.

Namun demikian, cara ini agak sulit diterapkan di lapangan dan terbilang mahal. Metode ini juga masih kalah saing dengan rodentisida kimia yang lebih murah dan dijual bebas di pasaran.

Sebaliknya, manajemen kimia namun non toksik menggunakan rodentisida seperti Rodol tidak terlalu efektif.

Ia menyebut, keefektifannya sudah diuji di IPB University bahwa tikus tidak terlalu suka dengan umpan tersebut.

“Alternatifnya, manajemen tikus dilakukan dengan kultur teknis yakni dengan metode budidaya tertentu. Misalnya seperti trap crop dan push-pull system repellent,” kata Dr Swastiko Priyambodo.

Sayangnya, kata dia, kedua metode ini tidak dapat digabungkan pada hamparan padi.

Metode budidaya lainnya yakni dengan tumpangsari padi gogo dan palawija atau pohon buah, sistem jajar legowo, atau  tanam padi serempak pada area sawah.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved