Polisi Tembak Polisi

Pertanyakan Keberadaan Ferdy Sambo di Penjara, Aktivis : Jangan-jangan Lagi Buat Persekongkolan Baru

Aktivis senior Irma Hutabarat menyindir kemunculan istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi yang tiba-tiba muncul ke publik padahal katanya sakit.

Penulis: Vivi Febrianti | Editor: Soewidia Henaldi
Kolase Kompas TV
Ketua Komunitas Civil Society Indonesia, Irma Hutabarat menyindir kemunculan istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi yang tiba-tiba muncul ke publik padahal sebelumnya disebut sakit. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Kasus kematian Brigadir J menjadi sorotan banyak pihak, terutama para aktivis hak asasi manusia (HAM).

Sejak kasus ini muncul, di mana polisi memberikan keterangan berbeda-beda, kemudian akhirnya ada pengakuan mengejutkan dari Bharada E, publik seolah merasa dipermainkan.

Transparansi yang dijanjikan oleh aparat penegak hukum pun seolah hanya bualan demi meredam emosi publik.

Belum lagi, istri Mantan Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo, Putri Candrawathi yang tiba-tiba muncul setelah sebelumnya disebut trauma dan depresi.

Pun soal keberadaan Ferdy Sambo yang katanya ditahan, tapi publik tak tahu di mana ia dikurung.

Hal itu lantas membuat Ketua Komunitas Civil Society Indonesia, Irma Hutabarat bertanya-tanya, di mana letak transparansi yang dijanjikan kepada publik.

"Dia dihukumnya di mana? Apa yang dia lakukan di penjara? Sekarang kan kita nggak tahu. Katanya mau transparan. Dikurung, di mana dikurungnya? Kenapa kita nggak boleh tahu? Orang ke Sukamiskin aja kita tahu kok. Kenapa? Jangan-jangan mereka di sana membuat persekongkolan baru," jelas Irma Hutabarat, dilansir dari Kompas TV, Sealsa (9/8/2022).

Tak hanya itu, ia juga menyorot Ferdy Sambo yang diperiksa soal etik, dan bukan soal pidana. Padahal pada kasus ini, Ferdy Sambo bukan seorang penyidik.

"Kepercayaan itu kan sudah dicoreng, jadi kan kepolisian punya kesempatan untuk membuktikan. Ini loh yang kami lakukan, ini gambarnya, ini contohnya. Ini ada pelanggaran etik, pelanggaran etik apa, menghilangkan barang bukti. Kan dia bukan penyidik, mana ada dia etika profesional untuk itu. That is the criminal collaborator," tuturnya.

Baca juga: Skenario Amankan Ferdy Sambo dari Kematian Brigadir J Gagal, Mahfud MD: Sudah Terbalik Semua

Irma Hutabarat pun mengatakan, kalau Bharada E jadi Justice Collaborator, maka seluruh yang terlibat dalam pembunuhan Brigadir J ini adalah the criminal collaborator.

Dirinya juga menyinggung soal sikap Komnas HAM yang sejak awal sudah setengah-setengan dalam menangani kasus ini.

"Ya kalau Komnas HAM mau manggil aja ragu-ragu, ya psikolognya bilang, kamu punya hak kok, kamu dibayar oleh rakyat Indonesia itu untuk melihat ada nggak pelanggaran HAM di dalam peristiwa itu," kata dia.

Padahal menurut Irma Hutabarat, sejak awal sudah banyak pelanggaran HAM yang dilakukan dalam kasus kematian Brigadir J ini.

"Banyak, dari mulai mayat tidak boleh dibuka, autopsi tidak boleh diketahui," ujarnya.

Anak Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi ini ikut muncul di publik bersama sang ibunda, ia terlihat terus menerus memberikan kekuatan pada ibunya.
Anak Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi ini ikut muncul di publik bersama sang ibunda, ia terlihat terus menerus memberikan kekuatan pada ibunya. (Youtube/Tribunnews.com)
Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved