Penipu Tanah di Puncak Bogor Merupakan Residivis, Tak Kapok Meski Sudah Dipenjara 2 Tahun

Polres Bogor telah meringkus seorang pria tua berinisial DT (79) atas kasus penipuan penjualan tanah di kawasan Puncak.

Penulis: Naufal Fauzy | Editor: Vivi Febrianti
TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy
Seorang pria berinisial DT (79) dibekuk Polres Bogor karena telah melakukan penipuan penjualan tanah di kawasan Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor. 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CIBINONG - Polres Bogor telah meringkus seorang pria tua berinisial DT (79) atas kasus penipuan penjualan tanah di kawasan Desa Citeko, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.

"Pelaku menjual tanah kepada dua orang yang berbeda dengan alasan Sertifikat Hak Milik (SHM) hilang," kata Kapolres Bogor AKBP Iman Imanuddin dalam keterangannya.

Pelaku ini rupanya juga merupakan residivis dan tak kapok setelah pernah terjerat kasus serupa pada tahun 2005.

Pelaku saat itu pernah melakukan penipuan penjualan tanah Taman Safari dan menjalani pidana penjara selama 2 tahun.

"Yang bersangkutan juga pernah dipidana terkait dengan penjualan tanah Taman Safari tahun 2005-an. Jadi memang sudah residivis," kata AKBP Iman Imanuddin.

Diberitakan sebelumnya, seorang pria berinisial DT (79) dibekuk Polres Bogor karena telah melakukan penipuan penjualan tanah di kawasan Puncak, Desa Citeko, Cisarua, Kabupaten Bogor.

Atas penipuan tersebut, korbannya merugi sampai ratusan juta Rupiah.

Kasus ini terungkap berawal dari pelaku menawarkan sebidang tanah seluas 1.232 meter persegi atas nama SHM HL kepada korban SG pada Juni 2022.

Tanah tersebut diakui pelaku telah dibeli berdasarkan Akta Jual Beli (AJB) karena SHM hilang yang diperkuat dengan surat kehilangan pada 2013.

"Tanah itu dijual Rp 315 Juta," kata Kapolres Bogor AKBP Iman Imanuddin dalam keterangannya, Sabtu (20/8/2022).

Korban SG berminat dan sepakat dengan harga yang ditawarkan kemudian bersama-sama membuat Pengikat Jual Beli (PJB) ke notaris atas jual beli bidang tanah tersebut sampai dengan sertifikat pengganti selesai dibuat.

Ketika korban SG akan menguasai tanah, ternyata ada orang yang juga mengakui bidang tanah tersebut dan mengaku telah membelinya sejak 2013, yakni korban DD dan NN.

"Tanah tersebut diakui kedua korban (DD dan NN) dibeli dari pelaku DT atas dasar surat PJB dari notaris dengan surat kehilangan yang sama," kata AKBP Iman Imanuddin 

Atas perbuatannya, pelaku DT dikenakan Pasal 372 dan 378 KUHP dengan ancaman pidana penjara maksimal 4 tahun, serta Pasal 266 KUHP dengan ancaman pidana penjara maksimal 6 tahun.(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved