IPB University

Cara Lepas Ketergantungan Gandum yang Kian Mahal, Rektor IPB University Ungkap Keunggulan Sorgum

Keberadaan sorgum ini utamanya bukan untuk substitusi gandum atau yang lain, melainkan untuk menjaga ketahanan pangan dengan menambah pilihan.

Editor: Tsaniyah Faidah
Istimewa
Ilustrasi biji sorgum - Terkait Titah Jokowi Tanam Sorgum Demi Bebas Ketergantungan Gandum, Rektor IPB University, Prof Arif Satria merasa kampusnya punya tanggung jawab moral untuk bisa mendorong adanya substitusi produk impor dengan produk berbasis pada karbohidrat lokal, sorgum salah satunya. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Rektor IPB University, Prof Arif Satria angkat bicara terkait Titah Jokowi Tanam Sorgum Demi Bebas Ketergantungan Gandum.

Menurutnya, IPB University punya tanggung jawab moral untuk bisa mendorong adanya substitusi produk impor dengan produk berbasis pada karbohidrat lokal, Sorgum salah satunya.

Dalam kesempatan ini, Prof Arif Satria mengatakan, tim peneliti dari IPB University telah berhasil menghasilkan berbagai varietas Sorgum.

Varietas yang dihasilkan guna meningkatkan produktivitas dan juga agar bisa beradaptasi dengan lahan marjinal.

Varietas Sorgum pertama yang dikembangkan yaitu Sorgum Rice (SORICE).

Prof Arif mengatakan, SORICE ini dapat mengatasi Masalah Gizi Ganda (MGG) di Indonesia. SORICE memiliki dua macam, yakni SORICE Merah dan SORICE Putih yang bisa tumbuh di lahan kering.

“Saat ini sudah dikembangkan varietas Sorgum dengan kualitas tanah yang baik. Sehingga pada saat ini daun dan batang Sorgum juga memiliki sifat tetap hijau di saat panen, sehingga bisa dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak sapi juga,” ucap Rektor IPB University, Prof Arif Satria.

Dari sisi produktivitas, lanjut dia, kuncinya adalah bagaimana kita bisa melakukan pendampingan kepada para petani agar bisa melakukan produksi pertanian dengan teknik yang tepat. Karena setiap varietas butuh treatment yang berbeda.

“Jadi, perlu terus dikembangkan dari sisi hilir. Hilirnya itu tepung Sorgum memiliki keunggulan bebas gluten, sehingga memang ini bagus sekali untuk orang-orang yang intoleran kepada gluten,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Kepala Deputi II Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Musdhalifah Machmud mengungkapkan data impor gandum sampai bulan Agustus 2022 sudah mencapai 8 juta ton.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved