IPB University

Dosen IPB University Kenalkan Alat Bantu Pemikat Ikan, Efektif Hasilkan Ikan Lebih Banyak

Dosen IPB University menjelaskan, dari hasil penelitian sebelumnya, alat bantu pemikat ikan ini mampu menjadi pengumpul ikan yang efektif.

Editor: Tsaniyah Faidah
Dokumentasi Humas IPB University
Tim Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) IPB University dari Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (PSP), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) mengenalkan inovasi booster rumpon (FADs) sebagai alat bantu pemikat dan pengumpul ikan yang efektif pada alat tangkap bagan apung. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Tim Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) IPB University dari Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (PSP), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) baru-baru ini melaksanakan diseminasi inovasi booster rumpon (FADs) sebagai alat bantu pemikat ikan dan pengumpul ikan yang efektif pada alat tangkap bagan apung.

Terdiri dari Dr Zulkarnain, Dr Ronny I Wahju dan Dr Fis Purwangka beserta dua mahasiswa IPB University, kegiatan ditujukan kepada masyarakat nelayan di Desa Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat.

Dr Zulkarnain selaku ketua tim Dospulkam menyampaikan, kegiatan dilakukan melalui sosialisasi dan diskusi dengan masyarakat nelayan, pelatihan teknis pembuatan FADs, pemasangan atraktor rumpon serta uji coba penangkapan ikan pada alat tangkap bagan apung.

“Bagan merupakan alat tangkap pasif yang dioperasikan menggunakan cahaya lampu sebagai alat bantu untuk mengumpulkan ikan-ikan yang bersifat fototaksis positif terhadap cahaya, sehingga ikan-ikan tersebut mudah ditangkap. Hingga saat ini, pengoperasian bagan hanya menggunakan cahaya lampu sebagai alat bantu penangkapan ikan,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia menyampaikan, hasil-hasil penelitian sebelumnya yang merupakan dasar-dasar pembentuk inovasi booster rumpon (FADs) sebagai alat bantu pemikat dan pengumpul ikan yang efektif.

Salah satunya studi tentang penggunaan rumpon pada bagan apung berhasil meningkatkan produksi hasil tangkapan ikan sebesar 145,4 persen.

“FADs merupakan kombinasi penggunaan empat unit atraktor rumpon berbahan daun kelapa dan satu unit atraktor umpan berbahan jaring Polyethylene (PE). Keempat atraktor rumpon masing-masing disetting menetap pada kedalaman 1-2 m dari permukaan air dan diikat pada setiap sudut dek bagan apung,” ujarnya.

Ia menyebut bahwa satu unit atraktor umpan ini dirakit dalam bentuk konstruksi jaring PE dengan tiga kantong umpan yang tersusun secara vertikal dan di-setting di bagian tengah bagan apung hingga kedalaman 6-7 meter.

Umpan yang digunakan adalah jenis ikan tembang dan cumi-cumi dengan total berat 2 kilogram per kantong umpan.

Menurut Dr Ronny I Wahju, jumlah bagan di Palabuhanratu sudah mencapai 900 unit yang tersebar di sepanjang pesisir pantai Teluk Palabuhanratu dengan jarak yang saling berdekatan.

Dengan kondisi tersebut, daya lampu bagan yang digunakan relatif homogen dan akan memberikan dampak sedikitnya hasil tangkapan, bahkan berpeluang tidak dapat ikan sama sekali. Kondisi rendahnya produktivitas tersebut terjadi sepanjang tahun.

Sementara, Dr Fis Purwangka menyatakan, rumpon merupakan alat bantu penangkapan ikan untuk mengumpulkan ikan sehingga mudah untuk dilakukan penangkapan dengan alat tangkap yang handal. Ikan-ikan berkumpul karena tertarik oleh benda-benda terapung (thigmotaxis) juga untuk mencari makan.

Sedangkan umpan merupakan salah satu faktor penting untuk menunjang keberhasilan suatu operasi penangkapan ikan karena dapat berpengaruh pada daya tarik dan rangsangan ikan.

Tandim, Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Harapan Kita Bina Nusantara mengungkapkan, kegiatan ini telah memberikan informasi baru, pengalaman dan keahlian tambahan yang dapat diimplementasikan secara langsung kepada masyarakat nelayan.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved