Sekjen KKP Buka RIFA Fest 2022 di BRPBATPP, Bima Arya: Kolaborasi Hulu ke Hilir

Kegiatan RIFA Fest merupakan bentuk sinergi dan kolaborasi KKP dengan para stakeholder terkait sebagai upaya akselerasi pembangunan kelautan

Editor: Mohamad Rizki
Istimewa/Pemkot Bogor
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Antam Novambar secara resmi membuka Fisheries and Aquaculture Product Festival (RIFA Fest) 2022 yang diselenggarakan di halaman Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan (BRPBATPP), Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jumat (2/9/2022). 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Antam Novambar secara resmi membuka Fisheries and Aquaculture Product Festival (RIFA Fest) 2022 yang diselenggarakan di halaman Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan (BRPBATPP), Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jumat (2/9/2022).

Kegiatan yang diikuti para penyuluh perikanan dari 40 kabupaten/kota, kelompok periset BRIN, pembudidaya ikan, UMKM binaan penyuluh perikanan dan pihak terkait lainnya, juga dihadiri Wali Kota Bogor, Bima Arya didampingi Ketua TP PKK Kota Bogor, Yane Ardian, Sekda Kota Bogor, Syarifah Sofiah.

Kegiatan RIFA Fest merupakan bentuk sinergi dan kolaborasi KKP dengan para stakeholder terkait sebagai upaya akselerasi pembangunan kelautan dan perikanan melalui industrialisasi produk inovasi dan penyuluhan.

Salah satu bentuk kolaborasinya adalah kerja sama produksi massal vaksin hydro galaxy dengan PT. Capri Karmindo Laboratories yang dalam kesempatan tersebut dilaunching secara simbolis oleh Sekjen KKP, Antam Novambar, Wali Kota Bogor, Bima Arya dan Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP) KKP, I Nyoman Radiarta.

Dalam sambutannya, Antam Novambar menjelaskan Kementerian Kelautan dan Perikanan tengah melakukan pembangunan ekonomi biru melalui lima program prioritas KKP, yaitu memperluas wilayah konservasi kelautan dengan target 30 persen dari wilayah kelautan Indonesia yang mana saat ini baru 20 persen, penangkapan ikan yang terukur, menjaga daya dukung lingkungan dengan budidaya ikan yang ramah lingkungan untuk meningkatkan produksi perikanan pasar ekspor dan dalam negeri, penataan ruang laut untuk perlindungan ekosistem pesisir dan laut serta bulan cinta laut.

“Di Indonesia banyak salah kaprah, paru-paru dunia sebetulnya ada di laut bukan di hutan karena baik koral maupun mangrove memiliki daya serap karbon 10 kali lipat daripada hutan. Untuk Bulan Cinta Laut, para nelayan dalam satu bulan diajak untuk tidak menangkap ikan tetapi ‘menangkap’ plastik dan penghasilan mereka dalam satu bulan akan kita ganti dengan uang, dengan harapan sampah plastik di laut atau di pulau-pulau berkurang. Itu kita kampanyekan sekarang,” jelasnya.

Wali Kota Bogor, Bima Arya menyampaikan, yang membedakan negara atau bangsa yang maju adalah totalitas dari hulu ke hilir dan totalitas berbagi tugas berkolaborasi. Jika setengah-setengah atau yang sendiri-sendiri pasti kalah.

“Ada dua hal dalam mengukur totalitas. Pertama, dari hulu ke hilir semua dikerjakan dan kedua tidak sendiri tetapi berbagi atau kolaborasi, jika dua itu jalan Insya Allah jadi pemenang.

Hari ini apa yang kita lakukan adalah bagian dari totalitas itu. Bicara bonus demografi atau ingin menjadi bagian dari negara ekonomi besar dunia, hulu ke hilirnya harus betul-bertul berjalan.

Hari ini kita kalah bersaing dengan cepat saji yang jarang menggunakan produk ikan mayoritas daging ayam atau sapi. Sementara ikan agak susah dan mengolah ikan itu effort dan saingan kita itu disana,” kata Bima Arya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved