IPB University

Ungkap Fenomena Kebocoran Data, Mahasiswa IPB University Sebut Pelaku Hanya Disanksi Administrasi

Mahasiswa IPB University menuturkan belum ada regulasi yang mengatur secara khusus perlindungan data pribadi dan informasi di Indonesia.

Editor: Tsaniyah Faidah
Ist
Mahasiswa IPB University dari Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia (Fema) ini menuturkan, belum adanya regulasi yang mengatur secara khusus perlindungan data pribadi dan informasi di Indonesia dapat memperburuk tindak kejahatan penyalahgunaan data. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Beberapa akhir ini terjadi fenomena kebocoran data, dimana puluhan juta data pengguna e-commerce dicuri.

Pemberian data pribadi cukup menimbulkan kekhawatiran pada beberapa konsumen.

Kasus penyalahgunaan data, seperti phishing dan penyalahgunaan akun melalui One Time Password ( OTP) juga kerap terjadi.

Melihat fenomena ini, lima mahasiswa IPB University, Ismie Leona, Rizka Syarifa, Laely Rahmawati, Miracle Samuel dan Elvindia Puja didampingi oleh Dr Istiqlaliyah Muflikhati melakukan penelitian terkait Kesediaan Konsumen dalam Memberikan Data Pribadi kepada E-commerce di Indonesia.

Kegiatan dilakukan dalam rangka Pekan Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH). Kelima mahasiswa tersebut juga mengkaji perihal Perlindungan Data Pribadi Konsumen di Indonesia.

“Berdasarkan hasil survei yang dilakukan tim kepada 324 responden dari 33 provinsi menunjukkan bahwa 66,9 persen responden memiliki tingkat kepercayaan dalam memberikan data pribadi kepada e-commerce terkategori sedang. Selain itu, ada 77,15 persen responden yang memiliki tingkat kesediaan dalam memberikan data pribadi kepada e-commerce terkategori sedang,” ungkap Ismie Leona Rahayu, mahasiswa IPB University.

Hasil wawancara mahasiswa IPB University menunjukkan, 2 di antara 6 responden menyatakan pernah mengalami kebocoran dan penyalahgunaan data.

Tindakan pertama yang dilakukan oleh kedua responden saat mengalami hal tersebut adalah menghubungi pihak customer service (CS) e-commerce untuk mendapatkan solusi.

“Saya mendapatkan telepon yang mengatasnamakan e-commerce. Sepertinya akun saya di-hack sehingga muncul kode yang diminta. Makanya saya kasih ke penelpon karena merasa itu benar dari pihak e-commerce. Saat itu saya hanya lapor ke CS karena saya tidak tahu harus lapor kemana,” ujar salah satu korban berinisial D saat diwawancara mahasiswa IPB University.

Selain itu, D juga pernah kedatangan paket cash on delivery (COD) yang tidak pernah ia pesan. Dirinya diminta untuk membayar paket tersebut dengan jumlah yang tidak sedikit.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved