IPB University

Dosen IPB University Beberkan 3 Tantangan Hadapi Indonesia Emas, Salah Satunya Krisis Pangan Global

Pada momen Indonesia Emas tersebut berbagai tantangan yang dihadapi dapat dikemas dalam bentuk agenda-agenda strategis.

Editor: Tsaniyah Faidah
Dokumentasi Humas IPB University
Menurut Wakil Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) IPB University bidang Pengabdian kepada Masyarakat, Dr Sofyan Sjaf, pada momen Indonesia Emas tersebut berbagai tantangan yang dihadapi dapat dikemas dalam bentuk agenda-agenda strategis. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Pada tahun 2045 Indonesia akan memasuki umur satu abad. Menurut Wakil Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) IPB University bidang Pengabdian kepada Masyarakat, Dr Sofyan Sjaf, pada momen Indonesia Emas tersebut berbagai tantangan yang dihadapi dapat dikemas dalam bentuk agenda-agenda strategis.

“ICMI dan IPB University memandang bahwa tantangan Indonesia ke depan ada tiga yang perlu kita jawab. Pertama, bagaimana membangkitkan ekonomi pasca COVID-19. Rupanya alhamdulillah kalau kita melihat kondisional yang ada kebangkitan ekonomi itu mulai dari desa,” ungkap Dr Sofyan.

Kedua, adalah Indonesia dalam menghadapi era digital 4.0 dengan ketidakpastian yang terjadi.

Menurut dia, umat Islam dan bangsa Indonesia harus siap menghadapi tantangan ini.

Tantangan terakhir, yakni perang antara Rusia dan Ukraina memicu adanya krisis pangan global yang sama sekali tidak bisa diprediksi.

“Tapi alhamdulillah dengan berbagai skema dan kebijakan yang ada di pemerintahan desa, tampaknya hal ini membuat legitimasi desa semakin kuat. Pengaruh empirik membuktikan bahwa dari desa kita mampu tumbuh, dari desa kita mampu bertahan dari pandemi COVID-19,” beber Ketua Majelis Percepatan Transformasi Desa, Majelis Pimpinan Pusat (MPP) ICMI ini.

Untuk itu, kata dia, IPB University dan ICMI memandang sudah saatnya membuktikan transformasi desa.

Dia juga mengatakan bahwa ICMI yang kini dipimpin oleh Rektor IPB University, Prof Arif Satria menempatkan majelis percepatan desa sebagai kerja konkrit ICMI.

Lebih lanjut dia menuturkan, riset IPB University memberikan catatan bahwa jika ingin melakukan transformasi desa, maka harus melihat pola tipologi masyarakat desa. Sebanyak 74,13 persen tipologi desa di Indonesia adalah pertanian, sementara 15,11 persennya desa bertipologi perikanan.  

“Untuk itu isu Rektor IPB University adalah agromaritim. Inovasi agromaritim adalah jawaban atas krisis pangan dan perangkatnya,” ujarnya.

Selain itu, Dr Sofyan juga mengingatkan bahwa Indonesia akan mendapat bonus demografi yang dapat menjadi ancaman serius.

Dia menyebut, saat ini telah terjadi perbaikan pendidikan di angka usia produktif 16-30 tahun, tetapi problematika pengangguran dan kemiskinan juga cukup tinggi.

“Dalam kesempatan yang berbahagia ini kami bekerja sama dengan beberapa elemen mahasiswa dari perguruan tinggi yang berbeda-beda akan mendeklarasikan bagaimana mahasiswa mengabdi untuk desa, karena di situlah sumber kehidupan bangsa kita,” katanya.

Dr Sofyan kemudian menambahkan, “Kami berpikir bahwa semua itu tidak bisa dilakukan kalau tidak ada tata kelola pemerintahan desa.

Untuk itu kami berharap Rektor IPB University, sekaligus Ketua Umum ICMI bisa melaunching Sekolah Pemerintahan Desa yang diinisiasi oleh IPB University,

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved