Marak Doktrin Menyesatkan, Dirut CNRCT Ajak Semua Pihak Waspada dan Jangan Terprovokasi

Direktur Eksekutif Center for Narrative Radicalism and Cyber Terrorism (CNRCT), Ayik Heriansyah turut mengungkapkan pandangannya terkait doktrin radik

Editor: Yudistira Wanne
Istimewa
Direktur Eksekutif Center for Narrative Radicalism and Cyber Terrorism (CNRCT), Ayik Heriansyah. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Direktur Eksekutif Center for Narrative Radicalism and Cyber Terrorism (CNRCT), Ayik Heriansyah turut mengungkapkan pandangannya terhadap bahaya doktrin kelompok radikal.

Terbaru, segelintir kelompok menyebar sejumlah pernyataan yang dikhawatirkan menimbulkan perpecahan.

 “Orang Islam itu boleh bergaul dengan siapapun tanpa memandang SARA kecuali bergaul untuk yang bersifat maksiat, merusak atau menaggangu ketertiban masyarakat hingga stabilitas negara,” ucapnya, Kamis (22/9/2022).

Dirinya melanjutkan, dalam pandangan Islam menurutnya ada tiga tuntunan yang harus dipedomani dalam kehidupan sosial dan berbangsa. 

Pertama, tidak boleh berteman dengan memandang perbedaan suku, ras dan agama, hal tersebut juga menurutnya termasuk kedalam syariat dalam bergaul.

“Kedua, bergaul itu tujuannya untuk kemaslahatan umat. Ketiga, harus ada akhlak. Akhlak ini tidak mengenal SARA juga. Berbuat baik tidak hanya kepada orang yang seagama, tapi kepada semua orang,” jelasnya.

Pria yang juga mantan pimpinan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Bangka Belitung ini, juga menyinggung terkait doktrin keliru Al Wala’ Wal Bara’ yang kerap digunakan oleh kelompok radikal untuk menjadi justifikasi melakukan tindakan kekerasan. 

Doktrin ini diartikan dengan, umat hanya boleh bergaul dengan internal seagama dan didorong untuk membenci terhadap yang berbeda.

 “Saya jelaskan dulu, Wala’ itu artinya kita harus setia, royal dengan orang orang se-aqidah, se-agama. Bara’, artinya berlepas diri, dari orang yang tidak se-aqidah, Nah permasalahannya, ketika istilah ini digunakan untuk masalah politik atau kenegaraan, disinilah mulai muncul permasalahan, salah penempatan,” kata Ayik.

Pasalnya, ketika istilah tersebut masuk ke ranah publik bahkan kenegaraan maka akan menjadi masalah tersendiri, terlebih yang menjadi dasar negara sejatinya adalah konstitusi yang merupakan hasil kesepakatan para pendiri bangsa. 

Sehingga menurut Ayik, sangatlah keliru ketika al wala’ wal bara’ dicampur adukkan dalam urusan publik, politik dan kenegaraan.

“Karena dalam sebuah negara keiamanan orang beragam, karena itu tidak bisa dijadikan sebagai dasar, dasar bernegara kita adalah konstitusi, sebagai hasil kesepakatan, kalau dalam agama islam kesepakatan itu sepanjang  tidak bertentangan dengan agama maka wajib dijaga dan ditaati, ” ujar Ayik

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved