IPB University

Pakar IPB University Kembangkan Terapi Inovatif untuk Tulang, Tumor dan Jantung

Sebelum diaplikasikan kepada manusia, terapi inovatif untuk atasi tumor, penyembuhan tulang hingga jantung diujii pada hewan model.

Editor: Tsaniyah Faidah
Dokumentasi Humas IPB University
Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Prof Gunanti berhasil mengembangkan terapi inovatif untuk atasi tumor, penyembuhan tulang hingga jantung. Sebelum diaplikasikan kepada manusia, Prof Gunanti sudah menguji terapi ini pada hewan model. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Prof Gunanti berhasil mengembangkan terapi inovatif untuk atasi tumor, penyembuhan tulang hingga jantung.

Sebelum diaplikasikan kepada manusia, Prof Gunanti sudah menguji terapi ini pada hewan model.
 
Prof Gunanti mengatakan bahwa lebih dari 2400 tahun yang lalu, telah diakui bahwa dengan mempelajari hewan, manusia dapat belajar banyak tentang diri tubuh mereka.

Penggunaan hewan model kini telah berkembang pesat pada hampir semua bidang penelitian biomedis, tidak hanya terbatas pada biologi dasar, namun juga pada bidang imunologi, penyakit menular, onkologi, serta perilaku.
 
“Penelitian kami dengan menggunakan hewan model dimulai sejak tahun 2002. Kami menggunakan hewan model tikus, kelinci, anjing, domba dan babi dengan berbagai intervensi medis. Mulai dari rekayasa reproduksi, induksi tumor, transplantasi ginjal, pembuatan defek tulang, terapi untuk sepsis, percobaan autotranfusi, hingga yang terbaru yaitu terapi jantung dengan sel punca,” jelasnya.
 
Untuk terapi kasus tumor, Prof Gunanti dan tim berhasil mengembangkan herbal dari tanaman nusa indah blustru, temu putih dan daun keladi.

Pengujian dilakukan dengan induksi tumor dan terapi herbal secara sistemik kepada kelinci dan mencit. Tumor berhasil diinduksi dengan baik pada mamari kelinci dan kulit mencit.
 
“Hasil penggunaan terapi herbal menunjukkan bahwa herbal yang diaplikasikan memberikan efek berupa penurunan ukuran tumor, mitosis dan angiogenesis. Hasil riset ini merupakan hasil yang membahagiakan bagi kami sekaligus menjadi harapan baru bagi pengembangan terapi herbal pada kasus tumor,” ujarnya.
 
Sementara itu, lanjutnya, untuk terapi penyembuhan tulang, pada tahun 2014 Prof Gunanti mencoba melakukan riset mengenai keterlambatan persembuhan tulang yang diterapi dengan insulin-like growth factor dan estradiol.

Hasil riset menunjukkan bahwa kedua sediaan ini mempercepat persembuhan fraktur tulang.

Menurutnya, hasil ini menjadi harapan baru bagi dunia ortopedik, sehingga bertambah satu lagi terapi alternatif untuk persembuhan tulang.

"Tahun 2013 hingga 2018, kami melakukan riset mengenai pengembangan bahan implant biomaterial scaffold tiga dimensi bifasik kalsium fosfat untuk defek pada tulang dengan bahan dasar cangkang telur dan alginat dari rumput laut yang memiliki keberlimpahan jumlah di Indonesia, " jelasnya.
 
“Pada riset persembuhan tulang kami menggunakan hewan model kelinci jenis New Zealand White dan domba. Hasil dari riset ini menunjukkan bahwa implant scaffold tiga dimensi bifasik kalsium fosfat dengan alginat memiliki kesesuaian dengan tubuh atau biokompatibel serta mampu menginduksi pembentukan tulang atau osteoinduksi," lanjutnya.
 
Untuk terapi penyakit jantung, Prof Gunanti menggunakan hewan model babi. Menurutnya, di Indonesia, angka fatalitas kasus infark miokardium merupakan angka tertinggi dibandingkan dengan penyakit jantung lainnya.

Prof Gunanti mencari metode lain yang dapat digunakan untuk mengembalikan fungsi jantung akibat infark miokardium dan mencegah terjadinya gagal jantung.
 
Sel punca adalah sel yang memiliki kemampuan memperbaharui diri dan berdiferensiasi menjadi beberapa tipe sel dengan fungsi seluler tertentu.

Salah satu tipe sel punca yang dapat digunakan adalah Amniotic Epithelial Cells atau AEC.

"Dari segi biaya, amnion juga sangat terjangkau karena dapat diperoleh dari persalinan, yang biasanya dianggap sebagai sampah medis,” jelasnya.
 
Pada tahun 2021, koleksi AEC berhasil dilakukan dengan viabilitas mencapai 98 persen tanpa kontaminasi. Hewan model yang digunakan dalam riset ini adalah babi.

"Alasan penggunaan babi dalam riset terapi jantung ini adalah kesamaan ukuran dan berat jantung,  anatomi jantung, pembuluh darah, aktivitas ventrikel, serta elektrofisiologi jantung yang mirip dengan manusia,” jelasnya.
 
Ia menambahkan, sampai saat ini inovasi terapi yang akan diaplikasikan pada manusia adalah terapi stem cell untuk mengatasi infark (kelainan otot jantung).

Terkait hal ini, Prof Gunanti sudah menjalin kerjasama dengan dokter di Universitas Riau dan Universitas Indonesia.
 
“Akan diaplikasikan ke manusia dua tahun lagi. Sudah uji pada tikus, kelinci dan babi. Babi itu mirip sekali jantungnya dengan manusia. Saya berharap stem cell yang menjadi kunci keberhasilan terapi jantung ini bisa terlaksana dengan baik,” tandasnya. 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved