KLHK Beri 30 Bibit Edelweis untuk Dibudidayakan di Taman Safari Indonesia Bogor

Sebanyak 30 bibit tanaman Edelweis Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) diserahkan KLKH.

Penulis: Muamarrudin Irfani | Editor: Yudistira Wanne
TribunnewsBogor.com/Muamarrudin Irfani
Direktur KKHSGH, Ditjen KSDAE, Indra Explotasia (memakai kerudung) menyerahkan bibit Edelwis kepada TSI Bogor untuk dibudidayakan, Senin (26/9/2022). 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Muamarrudin Irfani

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CISARUA - Kementerian Lingkungan Hidup dan Perhutanan Republik Indonesia (KLHK RI) menyerahkan 30 bibit tanaman edelweis dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) kepada Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor.

Tujuan dari pemberian bibit tanaman yang dilindugi tersebut ialah untuk kebutuhan konservasi.

Mengingat Taman Safari Indonesia tak hanya sekedar tempat rekreasi edukasi, melainkan juga tempat konservasi, terutama hewan.

"Edelweis Jawa yang akan diserahkan ke Taman Safari sebagai bentuk bagaimana In Situ mendorong Ex Situ untuk mengembang biakkan, yang nantinya setelah di budidaya akan dikembalikan lagi ke alam," ujar Direktur KKHSGH, Ditjen KSDAE, Indra Explotasia, di TSI Bogor, Senin (26/9/2022).

Nantinya, kata Indra Explotasia, apabila TSI berhasil mengembang biakkan, 70 persen hasilnya diperuntukkan untuk kemaslahatan masyarakat.

Pengebang biakkan ini, Indra Explotasia melanjutkan, diharapkan mampu menjadi alternarif mata pencaharian masyarakat.

Selain itu, agar tidak ada lagi yang memetik bunga abadi ini secara ilegal, agar tetap tumbuh dan lestari dialam.

Mengingat tumbuhan ini hanya bisa tumbuh di dataran tinggi saja.

Lebih lanjut, ia menuturkan, berdasaekan Peraturan Pemerintah No 8 Tahun 1999 tentang pemanfaatan terhadap tumbuhan dan satwa liar, ada beberapa tujuan dari pemanfaatan tersebut, antara lain untuk penelitian, penangkaran, dan salah satunya untuk budidaya.

"Tentunya dimungkinkan ketika satwa ataupun tumbuhan dilindungi, dan kemudian menghasilkan anakan, anakan itu yang disebut dengan generasi kedua (f2), generasi ketiga (f3) dan seterusnya itu dapat dimanfaakan," terangnya.

Meski begitu, Indra Explotasia menjelaskan, ada mekanisme dalam jual belinya, yaitu izin terhadap pemanfaatan.

"Jadi itu nanti setelah nanti Taman Safari berhasil membudidaya dan kemudian berhasil membuat f2, f3, apabila ingin di niagakan itu dimungkinkan, demgan mekanisme izin," tandasnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved