Kronologi Lengkap Pengungkapan Kasus Jual Bayi 'Ayah Sejuta Anak' di Bogor, Berawal dari Puskesmas

Kasus perdagangan bayi 'Ayah Sejuta Anak' dengan tersangka atas nama SH (35) di Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor mulai tercium berawal dari Puskesma

Penulis: Naufal Fauzy | Editor: Vivi Febrianti
Kolase Tribun Bogor/Naufal Fauzy/istimewa
Kasus perdagangan bayi 'Ayah Sejuta Anak' dengan tersangka atas nama SH (35) di Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor mulai tercium berawal dari Puskesmas. 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CIBINONG - Kasus perdagangan bayi ' Ayah Sejuta Anak' dengan tersangka atas nama SH (35) di Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor mulai tercium berawal dari Puskesmas.

Diakui pihak desa, aktivitas pelaku juga mulai dicurigai warga sekitar dua bulan sebelum pelaku ditangkap Polres Bogor.

"Kurang lebih dua bulanan sebelum penangkapan," kata Kepala Desa Kuripan, Siti Aswat Nurlita.

Berdasarkan data kronologis yang dirilis Polres Bogor, pihak Kecamatan Ciseeng awalnya juga mendapat laporan dari Puskesmas terkait Tersangka SH ini.

Saat itu pihak puskesmas mendapati beberapa pasien ibu hamil atas nama suami yang sama yakni Tersangka SH.

Selain itu, dalam kronologi yang dirilis Polres juga disebutkan bahwa ada salah satu korban ibu hamil yang diancam oleh Tersangka SH soal uang Rp 15 Juta.

Berikut kronologi lengkap pengungkapan kasus perdagangan bayi ' Ayah Sejuta Anak' yang dirilis Polres Bogor, Jumat (30/9/2022).

1. Pihak Kecamatan Ciseeng mendapatkan laporan dari Puskesmas Ciseeng bahwa ada 5 bayi yang lahir dalam rentan waktu bersamaan.

Semua bayi yang lahir nama ayahnya atas nama SH, dari ibu- ibu hamil yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, bukan orang Bogor.

2. Kades Kuripan mendapatkan laporan warga yang mana para ibu hamil itu dan bayinya ditampung oleh SH di rumahnya.

3. Pihak kecamatan memanggil Tersangka SH dan meminta berkonsultasi dengan Dinsos.

4. Tanggal 2 Agustus 2022 Dinsos mengundang Yayasan Sakura Indonesia, yayasan resmi di bidang kemanusiaan untuk berdiskusi tentang penananganan kasus ini. 

5. Tanggal 4 Agustus 2022, Dinsos, Sakura dan aparat kecamatan dan desa melakukan assessment ke rumah SH, hasil assessment ditemukan dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) bayi melalui modus adopsi illegal.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved