Surat SKPD Ditolak SPBU, Pengrajin Tahu Sumedang di Citeureup Bogor Sedih Rogoh Kocek Mendalam

Pengerajin mengeluh lantaran mesin diesel yang digunakan untuk penggilingan kacang kedelai untuk tahu Sumedangnya masih menggunakan solar.

TribunnewsBogor.com/Reynaldi Andrian Pamungkas
Pengrajin tahu Sumedang di Citeureup Bogor keluhkan surat SKPD miliknya tidak bisa digunakan lagi di SPBU Pertamina, hingga ia beralih ke BBM non-subsidi untuk diesel penggilingan kacang kedelai di pabriknya, Jumat (30/9/2022) 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Reynaldi Andrian Pamungkas

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CITEUREUP - Pengrajin tahu Sumedang di Citeureup, Kabupaten Bogor, mengeluhkan sulitnya berusaha pasca kenaikan harga BBM bersubsidi.

Pengerajin mengeluh lantaran mesin diesel yang digunakan untuk penggilingan kacang kedelai untuk tahu Sumedangnya masih menggunakan BBM bersubsidi jenis solar.

Selain itu, dengan adanya peraturan SPBU Pertamina yang saat ini tidak lagi memperbolehkan pembelian menggunakan jerigen menjadikan para pengusaha tahu yang masih menggunakan solar harus memutar otak.

Pengrajin tahu Sumedang, Husin mengatakan bahwa saat ini dirinya merasa kesulitan untuk membeli BBM bersubsidi di SPBU Pertamina.

"Surat Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) ditolak sama SPBU Pertamina, padahal saya beli bukan buat dijual lagi tapi buat usaha saya di rumah," ucapnya kepada TribunnewsBogor.com, saat disambangi di kediamannya di Jalan Anyelir, Desa Karang Asem Timur, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, Jumat (30/9/2022).

Seharusnya, kata Husin bila sudah memiliki surat SKPD, pemilik usaha dapat membeli bensin menggunakan jerigen di SPBU Pertamina.

Tetapi, belakangan ini menurutnya pembelian solar di SPBU Pertamina menggunakan jerigen selalu ditolak.

Bahkan, Husin pun sempat beberapa kali disarankan oleh pihak SPBU Pertamina untuk mendapatkan solar dengan cara mengakalinya.

Husin mengungkapkan bahwa ketika pihak SPBU Pertamina menolak, petugas SPBU pun menyarankannya dengan menggunakan sebuah truk.

"Katanya saya suruh pake truk aja isi solar, terus dari tangkinya saya sedot buat kebutuhan saya usaha, gak bisa gitu dong," katanya.

Saat ini, untuk bahan bakar yang digunakan Husin harus beralih dari solar menggunakan BBM non-subsidi jenis Pertamina Dex.

Dengan harga BBM yang digunakannya itu, membiat ia harus merogoh kocek lebih banyak, yang di mana mulanya membeli solar seharga Rp 6.800 saat ini dirinya membeli Pertamina Dex seharga Rp 17.400 per liternya.

Hal tersebut, ia lakukan dengan terpaksa demi membeli BBM di SPBU Pertamina menggunakan jerigen.

Ia menambahkan bahwa setiap harinya untuk penggilingan kacang kedelai, dirinya menggunakan 20 liter BBM.

"Tapi tetep aja nggak saya naikin harganya Rp 400 per huahnya, produksi sama ujurannya juga ngga saya kurangin, cuma keuntungannya aja yang berkurang," ujar pria asal Majalengka ini.

"Saya lebih kasian lagi kalo petani yang beli, masa mereka harus bawa traktornya dari sawah ke SPBU sih gimana jadinya itu," pungkasnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved