IPB University

Pakar IPB University Ungkap Orang Indonesia Lebih Suka Minuman Herbal saat Pandemi

Sementara minuman berbasis pemanis diduga mengalami penurunan. Temuan ini didapatkan dari survei online terhadap minuman favorit selama masa pandemi.

Editor: Tsaniyah Faidah
meramuda
ilustrasi - Prof Hardinsyah, Guru Besar Ilmu Gizi IPB University mengatakan berdasarkan fenomena ini, air putih dan minuman herbal menjadi favorit masyarakat selama pandemi. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Krisis pandemi COVID-19 menyebabkan sebagian masyarakat semakin menyadari betapa pentingnya makan dan minum bergizi untuk meningkatkan imunitas.

Masyarakat juga meyakini dari media sosial, media elektronik maupun desas-desus bahwa minuman tertentu dapat bermanfaat bagi kesehatan.

Prof Hardinsyah, Guru Besar Ilmu Gizi IPB University mengatakan berdasarkan fenomena ini, air putih dan minuman herbal menjadi favorit masyarakat selama pandemi.

Sementara minuman berbasis pemanis diduga mengalami penurunan. Temuan ini didapatkan dari survei online terhadap minuman favorit selama masa pandemi bersama mahasiswa IPB University.

Hasil temuan ini dikombinasikan dengan beberapa studi di berbagai negara. Survei ini untuk mendapatkan informasi terkait perkembangan jenis minuman di dalam negeri maupun mancanegara.

Menurutnya, minuman dapat dikategorikan favorit bila jumlah konsumsinya minimal 20 persen dari total populasi suatu negara.

Dari penelitian terhadap 2.200 subjek orang dewasa di Jawa, kategori air minum tidak dalam kemasan tetap menjadi favorit di masa pandemi dan tidak mengalami penurunan.

“Kajian ini bahkan menemukan bahwa subjek yang tetap minum air bernilai lebih dari 75 persen, baik pada wanita maupun pria,” katanya.

Ia menambahkan, survei juga dilakukan pada kategori minuman ringan seperti jus buah, susu, isotonik, minuman berenergi dan berkarbonasi.

Hasilnya menunjukkan bahwa jumlah konsumsi tetap meningkat selama dua tahun pandemi. Namun pada minuman berkarbonasi nilainya tidak terlalu tinggi.

Di sisi lain, imbuhnya, konsumsi terhadap minuman herbal berbasis kunyit, jahe dan STMJ (susu, telur, madu, jahe) ikut meningkat.

Lebih lagi kemasannya semakin praktis, dijual dalam bentuk cair siap saji. Minuman herbal juga semakin mudah diakses oleh konsumen di warung hingga supermarket.

Pakar Gizi IPB University ini mengatakan bahwa salah satu studi terkait tingkat hidrasi atau kecukupan air minum pada pekerja kelas menengah selama pandemi juga menemukan hal unik.

Pekerja yang diteliti merupakan pekerja umum non kesehatan dan kesehatan.

“Berdasarkan kajian tersebut, asupan air harian pekerja umum non kesehatan cenderung tidak cukup minum. Berbeda dengan pekerja Kesehatan, mereka lebih sadar akan pentingnya asupan air minum harian. Secara umum, manusia membutuhkan air sekitar 1 mililiter per 1 kkal kebutuhan energi harian, yakni dengan total sekitar 1.900 milliliter,” jelasnya.

Menurutnya, kajian di mancanegara juga menemukan hal menarik.

Di Korea, konsumsi minuman manis cenderung meningkat. Temuan ini menggambarkan bahwa selama pandemi, tidak semua masyarakat mendukung hidup sehat.

“Di Amerika, konsumsi alkohol meningkat hingga 21 persen selama COVID-19. Padahal alkohol dapat melemahkan imunitas. Akibat kenaikan konsumsi alkohol ini, World Health Organization sampai mengeluarkan pernyataan bahwa tidak benar info yang mengatakan bahwa alkohol dapat mencegah COVID-19, membunuh virus atau menstimulasi imunitas,” tandasnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved