Antisipasi Kepolisian Sebelum Tragedi di Stadion Kanjuruhan, Pengamat Nilai Panpel Kejar Keuntungan

Pengamat sepakbola Bachri Setiawan menyayangkan permintaan Kepolisian terkait jam penyelenggaraan dan pembatasan jumlah penonton diabaikan panitia pel

Editor: Vivi Febrianti
(SURYAMALANG.COM/Purwanto)
Ribuan suporter Aremania ricuh di Stadion Kanjuruhan, buntut kekalahan Arema FC atas Persebaya Surabaya 2-3, Sabtu (1/10/2022) malam. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang mengguncangkan dunia sepakbola dunia.

131 penonton meninggal dan 27 dalam perawatan intensif.

Pengamat sepakbola Bachri Setiawan menyayangkan permintaan Kepolisian terkait jam penyelenggaraan dan pembatasan jumlah penonton diabaikan panitia pelaksana.

Bachri berpendapat, hal itu menjadi satu penyebab tragedi di Stadion Kanjuruhan.

"Ini tentunya tidak terlepas dari stasiun TV yang menyelenggarakan tayangan langsung laga tersebut, dan Panitia Pelaksana yang mengejar keuntungan semaksimal mungkin dari penjualan tiket masuk. Sehingga akhirnya jam tayang tidak berubah, sementara kapasitas stadion yang mampu menampung 42.499 orang dimaksimalkan di angka 42.000 tiket, tidak mengikuti saran Kepolisian yang menyarankan untuk menurunkan ke angka 25.000 tiket saja," kata Bachri.

Dari data yang ia miliki, Bachri menyebutkan supporter yang datang berjumlah 42.288 orang.

Sedangkan kapasitas maksimal Stadion Kanjuruhan 42.499 orang.

Bachri berujar, hal tersebut jika ditambah dengan jumlah pasukan Polisi dan TNI, dapat dipastikan Stadion Kanjuruhan yang memiliki 14 pintu itu menampung jumlah orang melebihi kapasitasnya.

Bisa dibayangkan, setidaknya satu pintu harus melayani sekitar 7.265 orang.

Baca juga: Tragedi Kanjuruhan Menyimpan Duka, Presiden Madura United Desak Pengurus PSSI Mundur

Maka tak heran, kata Bachri, jika Polisi meminta mengurangi jumlah penonton berkaitan dengan risk assessment dan risk management yang diperhitungkan dan direncanakan Kepolisian.

"Jumlah anggota yang tersedia pun pastilah terbatas, tapi apa mau dikata, pertandingan dimulai, pertandingan selesai, kerusuhan terjadi. Kepolisian menembakkan gas air mata, sesuai dengan protap dan Perkap Nomor 16 tahun 2006, lalu banyak yang mempersalahkan hal gas air mata ini dengan berpegang pada aturan FIFA Point 19B," katanya.

Saat stadion dibuka, lanjutnya, penonton masuk lalu pintu dikunci dan penjaganya pergi entah ke mana.

Baca juga: Usut Tragedi Kanjuruhan, Komdis PSSI Putuskan 3 Poin, 2 Orang Dilarang Aktif di Sepakbola Indonesia

Ketika kerusuhan, semua berebut keluar, berdesakkan, terhimpit di ruang menuju pintu keluar, dan beberapa pintu terkunci.

"SOP stadion seperti apa itu, sudah sesuai FIFA apakah SOP standar PSSI? Saya meragukannya. Lalu kemudian karena banyak yang terhimpit, kehabisan oksigen, sampai meninggal sekian banyak, apakah karena gas air mata atau karena tidak bisa keluar stadion," katanya.

Bachri meminta masyarakat harus berani melihat keseluruhan peristiwa sesuai runutan secara objektif.

"Dan jangan berharap hanya cari gampang mempersalahkan aparat, atau terbawa arus mempersalahkan polisi," katanya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved