Insiden Arema vs Persebaya

Merinding, Aremania Ungkap Kebaikan Sahabat Saat Detik-detik Tragedi Kanjuruhan, Nyawa Ikut Melayang

Salah satu suporter Aremania membeberkan kebaikan sahabat sebelum meregang nyawa di Stadion Kanjuruhan Malang pada Sabtu Oktober 2022 kemarin.

kolase Tribun Jatim
Seorang remaja ungkap kebaikan sahabat saat tragedi Kanjuruhan, hingga kerbatnya itu akut meregang nyawa dalam Stadion pada Sabtu (1/10/2022). 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Tragedi Kanjuruhan Malang pada Sabtu (1/10/2022) malam menyisakan duka mendalam.

Seperti halnya dirasakan oleh salah satu suporter Arema FC, Andreas.

Andreas tampak masih berkaca - kaca saat mengingat tragedi tersebut.

Dirinya tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Remaja asal Desa Pucangsari ini baru saja kehilangan teman sejawatnya, Hendrik Gunawan.

Hendrik Gunawan adalah satu dari delapan remaja asal Kabupaten Pasuruan yang meregang nyawa dalam Tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu malam. Dia berangkat bersama Andreas, Sabtu siang dari rumahnya.

Andreas mengaku tidak menyangka perjalanannya ke Malang ini adalah perjalanan terakhir bersama sahabatnya, Hendrik Gunawan. Ia tidak menyangka, temannya nonton Arema ini akan memegang nyawa.

Ia mengaku berangkat siang dari Pasuruan menggunakan sepeda motor Hendrik.

Baca juga: Syok Dengar Tragedi Kanjuruhan Malang, Presiden Arema FC Tak Kuasa Tahan Tangis:Ini di Luar Prediksi

Sampai Stadion Kanjuruhan itu sekitar pukul 16.30 wib. Ia dan Hendrik tidak bergegas langsung masuk Stadion.

Selepas magrib, ia baru masuk ke Stadion dan langsung memasang spanduk di pagar penonton.

"Saya dan Hendrik duduk di Tribun 11. Sepanjang pertandingan itu memang sudah beberapa keributan kecil di tribun 12 dan 13. Setelahnya ya tidak ada tanda - tanda , kalau di akhir pertandingan akan kejadian seperti ini," katanya, Senin (3/10/2022) siang dikutip TribunJatim.com.

Disampaikannya, selepas pluit panjang dibunyikan, Arema kalah 2 - 3 dari Persebaya, ia langsung melepas spanduk yang dipasangnya di pagar. Ia memang melihat banyak orang yang memanjat pagar dan berusaha masuk ke lapangan.

Ia mengira, apa yang dilakukan suporter itu adalah bentuk kekecewaan terhadap hasil pertandingan itu. Ia dan Hendrik bahkan tidak pernah berpikir untuk masuk ke lapangan. Yang di pikirannya, hanya melepas spanduk dan bergegas pulang.

"Tapi tiba-tiba, suporter yang turun ke lapangan berlarian mendekat pagar tribun penonton. Dari arah lapangan, terlihat tembakan gas air mata bertentangan. Saya dan Hendrik langsung ketakutan dan mempercepat melepas spanduk," jelasnya.

Ia dan Hendrik langsung berusaha keluar dari Stadion. Di sana, ia melihat banyak suporter yang sudah pingsan di tribun penonton.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved