Dianggap Tak Merusak Alam, Begini Konsep Bioprospeksi dan Ekowisata di TNGHS

Bahkan, dipilihnya TNGHS lantaran Gunung Salak mengandung banyak sekali kawasan konservasi yang bisa dibermanfaatkan.

Penulis: Rahmat Hidayat | Editor: Damanhuri
TribunnewsBogor.com/Rahmat Hidayat
Perencanaan Konsep Bioprospeksi dan Ekowisata di TNGHS pada Kamis (6/10/2022). 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Rahmat Hidayat

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Konsep bioprospeksi dan ekowisata di Taman Nasional Gunung Halimun Salak ( TNGHS) direncanakan berintegritas dengan lingkungan.

Untuk mendukung hal tersebut, Balai Besar TNGHS bersama dengan Bogor Natur Indonesia (BNGI), Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (B TNGHS) bertujuan untuk terus membangun komitmen para pihak untuk berkontribusi nyata dalam mengembangkan ekonomi berkelanjutan melalui bioprospeksi dan ekowisata ini.

Lalu, apakah Konsep ini tidak akan merusak alam?

Konsep ini disinyalir tidak akan merusak lingkungan dan alam sekitar.

Bahkan, semua elemen mulai dari pengembang, produsen industri, sampao masyarakat disinyalir saling menguntungkan.

Bahkan, dipilihnya TNGHS lantaran Gunung Salak mengandung banyak sekali kawasan konservasi yang bisa dibermanfaatkan.

Taman Nasional Gunung Halimun Salak ( TNGHS) merupakan ekosistem wilayah pegunungan yang sangat khas dan langka, memiliki kekayaan biodiversity yang tinggi, serta budaya dan kearifan masyarakatnya yang sangat khas.

Kawasan ini juga merupakan tangki air alam untuk memasok air bersih kota-kotadan masyarakat desa sekitarnya, termasuk berfungsi sebagai forest healing yang semakin diminati masyarakat.

Disamping itu terdapat potensi sumber panas bumi, dan di daerah sekitarnya terdapat wilayah tambang emas, perkebunan, kegiatan pariwisata, dan tanaman obat yang menjadi sumber ekonomi berkelanjutan sesuai dengan
prinsip konservasi biodiversity dan kearifan masyarakat lokal.

Lokasinya yang sangat strategis dan mudah dijangkau, serta berkembangnya jaringan perhubungan di wilayah Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Lebak, Kota Bogor, dan Kota Sukabumi, sehingga kawasan ini sangat potensial untuk dikembangkan dan dibangun bagi kegiatan bioprospeksi dan ekowisata, menjadi model ekosistem pembangunan wilayah berbasis konservasi terintegras.

Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi, Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK, Nandang Prihadi menjelaskan, bahwa hal ini untuk menepis bahwa konservasi tidak menghasilkan apa-apa.

"Ini lebih kepada mengintegrasikan kedalam kegiatan bahwa selama ini kawasan konservasi dianggap menjadi beban dan tidak memberikan apapaapa. Justru dengan hal ini bisa memberikan pendapatan memberikan pertumbuhan ekonomi dan masyarakat," kata Nandang saat dijumpai di IPB International Convention Centre, Kamis (6/10/2022).

Nandang melanjutkan, justru dengan program ini, bisa memberikan impact yang luar biasa.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved