Kasih Kesempatan Orang Kaya Sekolah Negeri, Kebijakan Anies Baswedan Ditolak: yang di Bawah Nerimo

Tolak kebijakan Anies Baswedan, mereka yang mempunyai privilege, tidak mau masuk ke sekolah negeri dan beralih memasukan anaknya ke sekolah swasta.

Editor: Tsaniyah Faidah
Kompas.com
Anies Baswedan membuat semua warga setara yaitu memiliki kesempatan yang sama (equal opportunity) untuk memasuki Sekolah Negeri. Namun banyak keluarga yang menolak. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah mengubah sistem masuk untuk Sekolah Negeri di Jakarta.

Anies Baswedan membuat semua warga setara yaitu memiliki kesempatan yang sama (equal opportunity) untuk memasuki Sekolah Negeri.

Namun usai Anies Baswedan membuat perubahan sistem itu, banyak keluarga yang menolak.

Mereka yang mempunyai privilege atau hak istimewa sosial, tidak mau masuk ke Sekolah Negeri dan beralih memasukan anaknya ke Sekolah Swasta.

“Ketika dibuat equal opportunity, mulai 2019, tingkat penolakan dari (keluarga) yang punya privilege itu tinggi sekali,” ungkap Anies Baswedan dilansir dari Kompas.com.

Anies Baswedan menegaskan perubahan sisitem ini untuk menciptakan keadilan kepada anak-anak di Jakarta.

Dengan adanya perubahan ini dia berharap keluarga dengan ekonomi bawah tetap bisa merasakan anaknya bersekolah dengan kualitas baik.

Anak dari keluarga kelas bahwa pun, kata Anies Baswedan, mempunyai peluang untuk naik kelas.

“Ini jadi escalator untuk keluarga dari mana pun naik kelas. Selama ini escalator-nya hanya dimiliki yang punya privilege. Kenapa? Masuk sekolah yang bagus, mereka punya kesempatan lebih tinggi untuk masuk perguruan tinggi yang baik,” ujarnya.

Anies Baswedan memberi contoh, SMAN 48 Jakarta dulunya dipenuhi oleh siswa yang memiliki orang tua dengan tingkat pendidikan S1 hingga S3.

Baca juga: Kecewa Nasdem Usung Anies Baswedan, Sejumlah Kader Nasdem Mundur, Pengamat : Banyak Pendukung Ahok

Namun, setelah sistem equal opportunity diterapkan, banyak siswa yang memiliki orang tua hanya tamatan SD-SMP di SMAN 48 Jakarta, artinya mereka semua memiliki proporsinya yang normal.

“Semula sekitar 90 persen dari orangtua murid minimal S1, ada yang S2 dan S3. Begitu reform, maka terbelah. Yang orangtuanya SD-SMP ada. Proporsinya normal,” katanya.

Ia juga mengatakan bahwa selama ini tidak ada keluarga berekonomi menengah ke bawah yang protes saat anaknya tidak dapat masuk ke Sekolah Negeri.

“Yang di bawah pun enggak protes, yang di bawah nerimo,” ucapnya.

(Tribunners/Nabila Marsha Andini)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved