IPB University

Dosen IPB University Ungkap Potensi Minyak Pala, Bahan Baku Kosmetik Antiaging

Minyak atsiri pala berpotensi besar sebagai bahan baku industri kosmetik. Terutama sebagai agen antioksidan dan antiaging.

Editor: Tsaniyah Faidah
Ist/net
Fungsi minyak pala berperan penting sebagai bahan baku pembuatan kosmetik antiaging dan antioksidan. Sebab minyak pala mampu menghambat degradasi kolagen akibat paparan sinar ultraviolet. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Indonesia masih menjadi salah satu negara pengekspor minyak atsiri terbesar di dunia. Keragaman tanaman penghasil minyak atsiri yang tinggi di Indonesia berpotensi sebagai sediaan bahan baku industri. 

Salah satunya minyak atsiri pala. Minyak ini berpotensi besar sebagai bahan baku industri kosmetik. Terutama sebagai agen antioksidan dan antiaging.

Membahas lebih lanjut terkait hal ini, Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University menggelar Webinar Nasional “Prospek Bisnis Minyak Atsiri Pala sebagai Sediaan Kosmetik”, belum lama ini.

Kegiatan ini diinisiasi bersama PT Eteris Prima Wiyasa dan PT Sacha Inchi Sejahtera serta Kedai Reka.

“Seminar ini, khususnya pala sebagai tema utama, merupakan upaya SBRC dalam memanfaatkan pala untuk bisa lebih bernilai bagi masyarakat, khususnya bagi industri,” ujar Wakil Ke pala Science Techno Park (STP) IPB University Bidang Inovasi dan Ahli Teknologi, Dr Tri Prartono.

Dalam kegiatan ini, Dr Meika Syahbana Rusli, Kepala SBRC IPB University yang juga dosen di Departemen Teknologi Industri Pertanian, menuturkan terkait potensi minyak pala sebagai antioksidan dan antiaging sediaan kosmetik.

Ia mengatakan hampir setiap daerah memiliki tanaman yang menghasilkan, terutama pala. Pusat penghasil pala terdapat di Aceh Selatan, sebagian Sumatera Barat, Sulawesi Utara, Maluku, dan sebagian Papua.

"Produksi pala per tahunnya berkisar antara 300 sampai 350 ton. Berdasarkan angka dan trennya, produksi pala termasuk stabil hingga saat ini,” terangnya. 

Menurutnya, komoditas minyak pala dari Indonesia telah memasok 75 persen kebutuhan pasar dunia.

Porsi pangsa dunia yang besar ini menyebabkan minyak pala berdaya saing kuat di pasar dunia. Selain itu memiliki kemampuan dari segi mutu dan harga yang baik.

“Minyak atsiri pala memiliki potensi sebagai antioksidan dan antiaging menghambat degradasi kolagen akibat paparan sinar ultraviolet. Aktivitas antioksidan minyak atsiri ini dipengaruhi oleh kandungan monoterpen di dalamnya,” terangnya. 

Ia menambahkan, dibandingkan dengan sesama senyawa aktif minyak atsiri Indonesia lain, ternyata kandungan 4-terpineol dan miristisin dalam minyak atsiri pala diyakini bersifat paling kuat sebagai antioksidan atau antiaging.

“Senyawa tersebut paling cocok dikembangkan sebagai sediaan kosmetik antiaging. Temuan ini dibuktikan lebih lanjut melalui pengujian in silico,” ujarnya. 

Ia menjelaskan proses mendapatkan bahan aktif murni pada minyak pala dapat dilakukan melalui fraksinasi. Proses skala laboratorium dilakukan dengan metode spinning band distillation column.

Dengan rasio refluks 1:1, kandungan senyawa 4-terpineol dan miristisin relatif meningkat.

Dengan metode yang tepat, imbuhnya, baik skala laboratorium dan skala pilot, menghasilkan nilai inhibition concentration 50 persen (IC50) yang rendah.

Nilai ini adalah konsentrasi yang dapat meredam aktivitas radikal bebas sebesar 50 persen dan hasilnya memperoleh hanya sekitar 9,39 ppm.

Semakin kecil nilai IC50, maka aktivitas antioksidan semakin baik.

“Artinya, dengan sedikit minyak atsiri pala yang digunakan, tetap menimbulkan sifat antioksidan yang kuat. Namun demikian, saran saya, proses pemurnian ini masih memerlukan pengembangan metode sehingga diperoleh minyak atsiri pala dengan kemurnian yang lebih tinggi,” ujarnya. (

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved