IPB University

Peran Cendawan Endofit Bagi Tanaman Pangan dan Lingkungan, Ini Penjelasam Alumnus IPB University

Keutungan cendawan DSE apat memacu pertumbuhan dan peningkatan adaptasi tanaman terhadap cekaman biotik dan abiotik.

Editor: Tsaniyah Faidah
Pixabay
Surono PhD, Peneliti Pusat Riset Mikrobiologi Terapan, Badan Riset dan inovasi Nasional (BRIN) mengungkap fungsi cendawan akar bagi tanaman dan lingkungan. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Cendawan akar atau endofit merupakan cendawan yang memiliki peran penting bagi tanaman dan lingkungan.

Membahas lebih lanjut terkait fungsinya untuk mengatasi cekaman biotik dan abiotik, IPB Culture Collection (IPBCC) Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University bekerja sama dengan Mikoina Bogor dan Innovation Center for Tropical Sciences (ICTS) menggelar Kuliah Umum Mikoteknik Dark Septate Endophytes (DSE).

Kegiatan yang terbuka untuk masyarakat umum ini diadakan untuk mendukung program Kampus Merdeka dengan menghadirkan Surono PhD, Peneliti Pusat Riset Mikrobiologi Terapan, Badan Riset dan inovasi Nasional (BRIN).

Surono menjelaskan peran DSE sangat penting di tengah permasalahan perubahan iklim. Peran DSE perlu ditelusuri dan dipahami karena tidak ada tumbuhan di lingkungan yang tidak bersimbiosis dengan mikroba.

“Peran mikroba seperti DSE ini bisa menjadi penyelamat lingkungan, terutama untuk mengembalikan unsur hara di dalam tanah. Potensi cendawan endofit ini juga sering muncul di berita dan berbagai publikasi riset, terutama terkait fungsinya dalam pengendalian cekaman abiotik dan biotik,” ungkapnya.

Menurutnya, adanya perubahan iklim membuat peneliti ditantang untuk mampu memitigasi (dampaknya) agar tidak semakin luas. Terutama dampak akibat kekeringan, kebanjiran, dan naiknya suhu bumi.

Cendawan DSE dilaporkan masuk ke dalam kelas endofit akar dan bersifat non pathogen.

"Keuntungannya adalah dapat memacu pertumbuhan dan peningkatan adaptasi tanaman terhadap cekaman biotik dan abiotik, menunjang ketersediaan unsur hara di kondisi tertentu serta mendorong produksi fitohormon dan metabolit sekunder,” lanjut alumnus IPB University ini.

Ia menambahkan, pengendalian hayati dan cekaman dengan DSE ini masih memiliki banyak ruang untuk dieksplorasi.

Salah satu pengendalian hayatinya yakni mampu menekan fitopatogen seperti fusarium pada tomat.

Sedangkan pada tanaman sawit dapat menekan pertumbuhan ganoderma.

Dalam penjelasannya, karakteristik khusus DSE dibandingkan cendawan lainnya adalah kemampuan mengkolonisasi akar tanaman inang baik inter maupun intraseluler.

Cendawan ini tidak menunjukkan efek negatif pada tanaman inang, bahkan mampu memacu pertumbuhan tanaman inang di bawah cekaman biotik dan abiotik.

“Cendawan ini sering bersimbiosis dengan tanaman pangan. Di Indonesia masih perlu eksplorasi lagi karena masih sedikit pemanfaatannya,” tuturnya.
Menurutnya, tanaman yang diberikan perlakuan oleh DSE memiliki pertumbuhan yang lebih baik dibanding tanaman kontrol.

“Kegiatan yang sangat menarik ke depannya adalah memperdalam terkait metabolomiknya dan senyawa-senyawa sekunder yang nantinya bisa dimanfaatkan di dunia industri maupun perkebunan untuk pengendalian hayati di lapangan,” lanjut Surono.

Ia menegaskan bahwa pemanfaatan DSE sebagai sumber daya hayati di masa depan sangat berguna untuk pertanian organik atau pertanian ramah lingkungan. Pemanfaatan ini perlu didorong untuk menghasilkan produk pertanian yang lebih sehat dan berkualitas dan biaya produktivitas usaha tani yang lebih efisien.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved