Angka HIV di Kabupaten Bogor Tembus 598 Kasus, Dinkes Ungkap Penyebabnya

kenaikan tersebut karena screening yang dilakukan kepada populasi kunci dengan jumlah yang lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. pada tahun

TribunnewsBogor.com/Muamarrudin Irfani
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Mike Kaltarina dan Kabid P2P Adang Mulyana menjelaskan temuan HIV yang mengalami kenaikan, Kamis (27/10/2022) 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Muamarrudin Irfani

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CIBINONG - Angka pengidap HIV di Kabupaten Bogor mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya, sedikitnya pada tahun ini tercatat 598 kasus dari yang sebelumnya 428 kasus.

Menurut Kepala Bidang Pelayanan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor, Adang Mulyana, mengatakan, kenaikan tersebut karena screening yang dilakukan kepada populasi kunci dengan jumlah yang lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya.

Ia menjelaskan, pada tahun sebelumnya melakukan pemeriksaan melalui screening terhadap sekitar 20.000 orang yang masuk ke dalam populasi kunci, sedangkan tahun yang tercatat hingga Oktober 2022 pihaknya sudah melakukan screening kepada sekitar 70.000 orang.

"Wajar ketemunya cukup banyak, karena yang tadi disampaikan ini adalah progres, dan ini memang harus banyak ditemukan karena visi kita kan mencegah. Semakin banyak yang ketemu akan semakin banyak yang dicegah," ujarnya kepada wartawan.

Dengan adanya jumlah tersebut, menjadikan Kabupaten Bogor peringkat kedua dengan temuan kasus tertinggi di Jawa Barat.

Baca juga: Angka Kasus HIV dan AIDS di Kabupaten Bogor Meningkat, Pemda Diminta Serius Tangani Masalah Ini

Menurutnya, salah satu wilayah yang terdapat penemuan suspek HIV ialah di wilayah dengan mobilitas penduduk yang tinggi.

Disamping itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Mike Kaltarina mengatakan, dengan adanya penemuan ini, jangan sampai menimbulkan sekat dengan orang-orang yang tersuspek.

Ia meminta kepada seluruh masyarakat tidak mendiskrimansi serta mendiskreditkannya.

"Kita harus stop bersama-sama dengan mereka, harrus dihapuskan stigma itu dan itu yang menjadi tagline kita, tak ada lagi stigma bahwa orang penderita itu di diskriminasi itu tidak boleh. Sama-sama membangun negeri," tandasnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved