IPB University

Guru Besar IPB University Inisiasi Kampung Ramah Keluarga, Riset Sejak Tahun 1997

Prof Euis saat ini tengah menginisiasi proyek riset bernama Kampung Ramah Keluarga. Kampung ini akan membuat fungsi keluarga berjalan semestinya.

Editor: Tsaniyah Faidah
Dokumentasi Humas IPB University
Guru Besar IPB University dari Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK) Fakultas Ekologi Manusia (Fema), Prof Euis Sunarti menginisiasi proyek riset bernama Kampung Ramah Keluarga. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Guru Besar IPB University dari Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK) Fakultas Ekologi Manusia (Fema), Prof Euis Sunarti menekankan pentingnya pembangunan wilayah kota dan kabupaten untuk memperhatikan dan memperhitungkan agar ramah keluarga.

Saat ini hanya segelintir kota/kabupaten di Indonesia yang mengimplementasikan pembangunan ramah keluarga dalam peraturan daerah (perda).

Ia mengungkap, hingga kini baru ada sekitar 25-30 kabupaten/kota dan provinsi yang memiliki perda pembangunan (ketahanan) keluarga, yang menjadi dasar implementasi kebijakan pembangunan yang keluarga yang lebih eksplisit.

Oleh karena itu, Prof Euis saat ini tengah menginisiasi proyek riset bernama Kampung Ramah Keluarga.

Menurutnya, Kampung Ramah Keluarga akan menciptakan lingkungan yang kondusif dan saling mendukung.

Setiap orang berinteraksi secara positif, sehingga menghasilkan feedback positif, merasa satu keluarga besar dan saling memperhatikan.

"Itulah pengaturan dalam mengawal semua sendi kehidupan keluarga berjalan agar terbangun ketertiban dan masyarakat madani juga bangsa yang maju dan beradab,” sebutnya.

Perjalanan riset terkait pembangunan ramah keluarga oleh Prof Euis tidak dilakukan secara instan. Ia melakukannya sejak tahun 1997.

“Jadi, sebagai orang yang menggeluti soal isu-isu keluarga, kami merasa ada tanggung jawab sosial untuk berkontribusi berdasarkan riset yang dibuat,” tambahnya.

Menurutnya, pembangunan yang tidak memperhatikan (tidak ramah) keluarga akan mengakibatkan banyak fungsi keluarga yang tidak berjalan.

Fungsi keluarga tidak hanya ekonomi, akan tetapi ada fungsi pendidikan, cinta kasih, agama, perlindungan, lingkungan, dan lain-lain.

“Tidak berjalannya fungsi keluarga menyebabkan berbagai masalah keluarga muncul, bahkan menunjukkan peningkatan tindak kekerasan, perceraian, konsumsi narkoba hingga kriminalitas,” ungkapnya.

Ia menyampaikan, kebijakan pemerintah pusat hingga daerah harus mementingkan dampaknya terhadap keluarga. Pembangunan wilayah harus menyejahterakan keluarga-keluarga yang tinggal di wilayah tersebut.

Pembangunan wilayah yang ramah keluarga memungkinkan keluarga dekat dengan sumber nafkahnya sehingga dapat mengalokasikan sumberdaya waktu untuk melaksanakan berbagai fungsi dan tugas keluarga lainnya, sehingga dampak buruk fungsi keluarga yang tidak berjalan dapat dihindari.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved