Soal Tarif Biskita Transpakuan, Pemkot Bogor Masih Lakukan Pengkajian, Skema Ini Jadi Pertimbangan

Dedie menjelaskan, dari pengkajian yang sedang dilakukan saat ini, terdapat usulan terkait penarifan dimana, penarifan ini diusulkan dengan nilai

TribunnewsBogor.com/Rahmat Hidayat
Ilustrasi Biskita Transpakuan Kota Bogor yang pengenaan tarifnya sedang dikaji mendalam oleh Pemkot Bogor. 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Rahmat Hidayat

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor terus mengkaji skema penarifan moda transportasi Biskita Transpakuan yang dikabarkan akan berbayar pada bulan Januari 2023 ini.

Sampai saat ini, pengenaan tarif Biskita Transpakuan masih belum diberlakukan.

"Kita sudah menerima usulan dari Dinas Perhubungan terkait dengan tarif Biskita, tetapi memang Pak Wali Kota sedang mempertimbangkan nilai tarif yang kira kira sesuai dengan kemampuan masyarakat, ini sedang membutuhkan waktu untuk mempelajari itu," kata Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim kepada wartawan, Kamis (5/1/2023).

Pemkot Bogor saat ini sudah mengantongi skema penarifan itu namun terus melakukan pengkajian mendalam.

Dedie menjelaskan, dari pengkajian yang sedang dilakukan saat ini, terdapat usulan terkait penarifan dimana, penarifan ini diusulkan dengan nilai 5.500.

"Usulannya 5.500, tetapi kan ada Willingnes To Pay dan ada juga Ability To Pay, kemampuan membayar sama kemauan membayar (willingnes to pay)," jelasnya.

Dedie menjelaskan, usulan 5.500 itu saat ini terus dilakukan pengkajian yang mendalam bersama pihak terkait.

Pengkajian skema penarifan ini juga, sambung Dedie, disesuaikan dengan koridor yang dimiliki saat ini.

Secara gambaran, koridor Biskita yang ada saat ini sifatnya terbuka sehingga masayarakat harus berganti bis untuk kembali melanjutkan perjalanannya.

Pemkot Bogor mendorong pihak IT dari BPTJ untuk berkoordinasi terkait hal ini.

"Kami juga sedang berkoordinasi dengan BPTJ, dengan karcis terusan. Kan kalau sekarang halte di Kota Bogor ini terbuka.  Jadi misalnya orang Parung Banteng mau ke Stasiun, maka dia akan turun di A Yani kemudian ganti Bis arah Stasiun Bogor.  Kalau kemudian kita tidak berikan tarif terusan, dia (penumpang) ada dua kali bayar tarif," jelasnya.

"Jadi misalnya gini, bayar sekali selama 30 menit, itu satu tarif sampai Stasiun Bogor. Tetapi kalau tidak diselesaikan dari sisi sistem maka si penumpang akan bayar dua kali. Nah ini sedang dibahas, makanya belum diterbitkan tarif karena ada beberapa aspek tekhnis yang sedang dibicarakan," imbuhnya.

Baca juga: Masih Dikaji Secara Matang, Biskita Transpakuan Bogor Masih Gratis di Tahun Ini

Dedie pun memastikan, bahwa pengenaan tarif ini masih belum diberlakukan.

Pihaknya akan terus melakukan pengkajian mendalam sebelum benar-benar tarif ini dikenakan bagi para penumpang Biskita Transpakuan.

"Pak wali tidak mau kalau tarifnya jadi 22 ribu (PP Parung Banteng-Stasiun), kan disana ada pelajar, mahasiswa, ada difable, makanya kan gimana apakah sistem dari biskita bisa membaca ini atau tidak. Untuk targetnya, segera mungkin, kan sekarang ada pertimbangan tehnis itu tadi, ATP dan WTP nya," tandasnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved