Sumber Uang Penghuni Terakhir Kampung Mati Jogja, Berkelahi dengan Biawak dan Ular Demi Jajan Anak

Cara Bertahan Hidup Penghuni Terakhir Kampung Mati di Jogja, Harus Berkelahi dengan Biawak dan Ular Demi Jajan Anak

Penulis: Sanjaya Ardhi | Editor: Ardhi Sanjaya
Kompas.com/Youtube Jejak Bang Ibra
Sumber Uang Penghuni Terakhir Kampung Mati di Yogyakarta, Harus Berkelahi dengan Biawak dan Ular Agar Bisa Beri Jajan Anak 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Keluarga Sumiran (49) menjadi penghuni terakhir kampung mati di Yogyakarta.

Sumiran dan Sugiyanti (50) memilih hidup sederhana di kampung mati, Pedukuhan Watu Belah, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mereka memiliki dua anak, Agus Harwanto (24) dan Dewi Septiani (12).

Tinggal di lereng bukit Watu Welah, membuat Septi harus berjalan kaki jauh untuk sampai ke sekolahnya di SD Kutogiri, Pedukuhan Parakan.

Akses dari kampung mati terbilang terjal, tak bisa dilintasi kendaraan.

Maka mereka harus menempuh perjalanan dengan jalan kaki sekitar 2 kilometer.

Jalan melintasi bukit hutan bambu, kebun kayu dan jembatan anyaman bambu untuk menyeberang sungai.

Butuh satu jam jalan kaki ke pinggir jalan dusun. Dari sana barulah melanjutkan perjalanan menggunakan motor.

Meski menjadi penghuni terakhir kampung mati, keluarga Sumiran tetap harus meneruskan hidup.

Mereka bertahan hidup dengan bahan sederhana seperti kayu bakar, daun singkong atau pepaya yang dibuat oseng-oseng untuk dimakan.

Ada pula kelapa, pisang dan beragamm buah lain yang didapat dari hutan di sekitar.

Untuk air tak perlu ditanya, ada berlimpah di sana.

Sementara listruk disalurkan lewat kabelyang ditarik sejauh 3 kilometer dari desa tetangga.

Walau memanfaatkan alam untuk bertahan hidup, namun Sumiran masih memiliki penghasilan.

Ia bekerja serabutan yang dibayar dari kerja kasar.

"Kalau ada pesanan almari ya dibuatkan. Kalau gak ada (pesanan) ya gak bekerja, tidak ada pemasukan," kata Sugiyati.

Mereka juga mengandalkan penghasilan anak pertama yang bekerja di pabrik pembuatan sosis di wilayah Kabupaten Bantul.

Ketika memiliki uang, Sugiayati bisa membeli bahan memasak.

"Kalau ada rezeki bisa beli bawang untuk masak, Kalau tidak ya masak nasi saja," katanya.

Septi siswi SD di Yogyakarta yang jalan kaki lewati hutan ternyata dapat bantuan rumah dari pemerintah.
Septi siswi SD di Yogyakarta yang jalan kaki lewati hutan ternyata dapat bantuan rumah dari pemerintah. (Kolase Kompas.com)

Ia mengaku tak pernah membeli lauk untuk makan.

"Ya karena tidak ada (uang)," katanya.

Lain lagi bila untuk jajan dan membeli perlengkapan sekolah Septi.

Sugiyati dan Sumiran menjual ayam agar memiliki uang membeli peralatan sekolah Septi.

"Tapi harus berkelahi dulu dengan biawak dan ular yang suka memangsa ayam. Pernah satu hari hilang dua (dimangsa biawak). Sedih rasanya,” kata Sugiyanti.

 

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved