Petani di Cijeruk Bogor Dipaksa Kalah dengan Keadaan, Perkebunan Hilang, Begini Kronologinya

Petani di kawasan Bukit Alesano, Gunung Salak, Kampung Kawung Luwuk, Desa Cijeruk, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor.

Penulis: Wahyu Topami | Editor: Yudistira Wanne
TribunnewsBogor.com/Wahyu Topami
Kedai Kopi Abdi di atas Gunung Salak, Desa Cijeruk, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Senin (4/9/2023). 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Wahyu Topami

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CIJERUK - Petani di kawasan Bukit Alesano, Gunung Salak, Kampung Kawung Luwuk, Desa Cijeruk, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor keluhkan banyaknya kawasan perkebunan yang semakin menipis.

Selain menipisnya lahan terbuka hijau petani-petani di kawasan pegunungan salak itupun mengeluh karena akses jalan menuju perkebunan dilubangi dengan sengaja menggunakan eksavator.

Ia mengaku tidak terima jalan yang mulanya bisa dilewati dengan bebas kini berlubang sedalam kurang lebih 1 meter dengan lebar sekitar 3 meter.

"Ini dikeruk hari Jumat, sebenarnya gak terima cuman sebagai petani, orang kecil saya takut, udah dikeruk dua kali," kata salah satu petani, Hendi (45).

Menurutnya lubang yang dikeruk itu dibuat dengan sengaja oleh salah satu perusahaan, yang konon akan membuat kawasan wisata di Desa Cijeruk.

"Sengaja ini dikeruk begini biar aktivitas warga keganggu, intinya gaboleh masuk petani tuh," ungkapnya.

Dengan kondisi tersebut ia merasa terganggu dan cukup kesulitan ketika beraktivitas menuju ke perkebunan, terlebih jalan tersebut saat ini sudah tidak bisa dilintasi kendaraan roda empat.

"Kerugiannya saya tiap hari jalan di sini, jadi terhambat bawa pupuk bawa yang lainnya juga. Jadi selama seminggu ini sesudah dikeruk kesulitan bawa pupuk dan lainnya itu, kadang bawa mobil atau motor sulit," tandasnya.

Saat ini setiap harinya ia harus memikul setidaknya 50 kilogram pupuk, sebab kendaraan yang dibawanya sudah tidak bisa masuk ke kawasan perkebunan, karena ulah perusahaan yang menurutnya dengan sengaja melubangi jalan bagi petani.

"Harus diangkut jalan kaki sekarang mah, dipikulan jauhnya 200 meter mah ada bobotnya 50 kilogram, setiap hari," pungkasnya.

Ia juga pengerukan di jalan itu tanpa ada pemberitahuan apapun kepada petani.

Ia juga mengaku ingin ngomong ke perusahaan tersebut, hanya saja dirinya tidak berani, sebab ia merasa tidak memiliki kekuatan apapun.

"Pengen ngomong cuman takut, sayakan orang kecil, ini aja dikeruk nggak ada omongan taunya udah dikeruk aja gitu, jalannya dikeruk," tutupnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved