Kisah Humaedi, Kakek Pengatur Lalu Lintas di Cisarua Bogor, Sudah Setengah Abad Hidup di Jalanan
Ia menjadi relawan pengatur lalu lintas di Jalan Raya Puncak, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Menurutnya, sudah sejak tahun 1974 ia menggeluti
Penulis: Wahyu Topami | Editor: Reynaldi Andrian Pamungkas
Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Wahyu Topami
TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CISARUA - Humaedi seorang kakek berusia 65 tahun sudah mendedikasikan lebih dari setengah hidupnya berada di jalanan.
Ia menjadi relawan pengatur lalu lintas di Jalan Raya Puncak, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.
Menurutnya, sudah sejak tahun 1974 ia menggeluti profesi tersebut.
"Saya pokoknya di sini urusan parkir sejak tahun 1975 tadinya 1974 di sana (pasar)," ujarnya pada TribunnewsBogor.com, Selasa (26/9/2023).
Dirinya menyadari kalau pekerjaan yang digeluti selama 49 tahun itu merupakan salah satu tugas dari pihak kepolisian.
Namun ia memilih menjadi relawan pengatur lalu lintas karena panggilan jiwa.
"Panggilan jiwa aja nih kalau di tengah-tengah kuping itu kadang harus pake penutup, orang ngomong apa bodoh amat. Saya mah orangnya mah ga mau ada masalah, mau pantat kesenggol mobil biarin aja yang penting di sini (Puncak) gak ada masalah," ungkapnya.
Baginya menjadi seorang relawan pengatur lalu lintas cukup sulit, karena banyak pengendara yang sulit diatur.
Tak jarang dirinya tak peduli ketika ada pengendara yang nekad menerobos meskipun sudah diatur.
"Perasaan saya yang sulit itu kalau macet aja sulit ngeluarinnya. Mending ya kalau gampang diatur mah kalau yang susah mah ya udah bodoh amat, yang penting sudah dikasih tahu," kata Humaedi.
Apabila rekayasa lalu lintas di Jalan Raya Puncak diterapkan dirinya beserta beberapa kawannya yang turut mengatur lalu lintas mengikuti aturan yang sudah ditetapkan petugas.
"Kalau lagi one way ke atas, semua ke atas dari gang mau ga mau, kalau ke bawah ya ke bawah jangan nunggu di gang sini mending di tempat lain," terangnya.
Baca juga: Keseruan Tempat Wisata Cisarua Green World Adventure Bogor, Bisa Renang hingga Outbound
Guna menghidupi keluarganya selain menjadi Supeltas, tak jarang Humaedi juga menjadi sopir angkot hingga tukang ojek apabila Jalan Raya Puncak sedang sepi dan tidak lagi membutuhkan jasanya.
"Iya menghidupi keluarga dari sini aja, kalau di sini sepi bawa angkot narik, kalau nggak Cianjuran, kadang-kadang ojek," lanjutnya.
Dalam sehari menjadi relawan pengatur lalu lintas di Puncak Bogor, Humaedi bisa meraup hasil hingga setengah juta rupiah ketika weekend tiba.
"Kalau di sini paling cepek (Rp 100.000), paling tinggi pego (Rp 150.000) kecuali Sabtu-Minggu. Kalau Sabtu-Minggu lumayan, sabtu ya kadang-kadang Rp 300.000 kalau Minggu Rp 400.000 sebab buat setor ke rumah jangan sampai tekor," tandasnya.
Anaknya Diamankan karena Hendak Ikut Demo di Jakarta, Orang Tua Kesal : Pengen Saya Gebuk |
![]() |
---|
Polisi Temukan Ratusan Pelajar di Bogor yang Mau Ikut Demo ke Jakarta Pakai Iuran Rp10.000 |
![]() |
---|
Amankan Ratusan Pelajar yang Akan Ikut Demo ke Jakarta, Polres Bogor Temukan Grup WA Isi 457 Anggota |
![]() |
---|
Polres Bogor Amankan 197 Pelajar yang Akan Berangkat Demo ke Jakarta, Begini Nasib Mereka |
![]() |
---|
Hendak Ikut Demo ke Jakarta, Pelajar di Kabupaten Bogor Berkamuflase Gunakan Pakaian Bebas |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.