Soal Patung Dewi Kencana di Puncak Bogor, Budayawan Sebut Hal Biasa: Tapi Posisinya Tidak Tepat

Patung raksasa Dewi Kencana yang berdiri di Kawasan Wisata Pakis Hills, Puncak Bogor, masih menjadi polemik, kali ini dari sudut pandang budayawan.

Tayang:
Penulis: Wahyu Topami | Editor: Vivi Febrianti
TribunnewsBogor.com/Wahyu Topami
Patung Raksasa Dewi Kencana di Kawasan Wisata Pakis Hills Puncak Bogor, Selasa (23/4/2024). 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CISARUA - Patung raksasa Dewi Kencana yang berdiri di Kawasan Wisata Pakis Hills, Puncak Bogor, masih menjadi polemik, kali ini dari sudut pandang seorang budayawan Puncak Bogor, Yudi Wiguna.

Menurutnya, patung tersebut memiliki posisi yang kurang tepat karena tidak mempertimbangkan aspek psikologis masyarakat Puncak Bogor.

"Sebetulnya kalau dari unsur budaya, hal itu saya anggap biasa, cuma posisinya yang gak tepat. Pada saat mau membuat ini (patung) belum ada musyawarah, kemudian belum mengantongi izin dari pemerintah setempat, lalu tidak memperhatikan budaya, sosial dan politik yang ada karena untuk kawasan Bogor, khususnya puncak masyarakatnya bersifat religius," ujarnya pada TribunnewsBogor.com, Rabu (24/4/2024).

Selain aspek psikologis, Yudi juga menyoroti sosok Dewi Kencana atau Ratu Kencono Wungu yang merupakan Putri Kerajaan Majapahit.

Padahal menurutnya, di wilayah Pakis Hills terdapat banyak petilasan atau tempat yang pernah disinggahi oleh tokoh-tokoh terdahulu suku Sunda, seperti petilasan Munding Wangi, Jaya Raksa, dan Suryakancana, yang berbentuk batu seperti batu Altar, batu Sirap, dan batu Gobang.

“Sementara patung itu Kencono Wungu bagian dari Majapahit, padahal kalau mau mengangkat kearifan lokal, banyak sebenarnya di Pakis Hills sendiri ada petilasan yang sangat luar biasa seperti petilasan Munding Wangi, eyang Jaya Raksa, Eyang Suryakancana. Kenapa itu tidak dijadikan kearifan lokal untuk dijadikan pariwisata,” paparnya.

Dengan berdirinya Patung Dewi Kencana tersebut, Yudi sangat menyayangkan dan secara pribadi menolak adanya patung tersebut.

“Malah ornamen atau patung yang dibuat dari kerajaan Majapahit, sangat menyayangkan hanya demi menarik wisatawan domestik atau mancanegara dengan alasan itu untuk tempat selfie tapi dengan membuat patung seperti itu. Tapi kalau saya sendiri, ya menolak secara jelas karena unsur wilayah kenapa unsur kearifan lokalnya gak digunakan," pungkasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved