Pengakuan Operator Cetak Rp 100 Juta Uang Palsu di UIN Makassar, Bisa Triliunan Bila Kuasai Mesin

Pengakuan Operator Cetak Rp 100 juta Uang Palsu di UIN Makassar, Bisa Triliunan Bila Kuasai Mesin

Tayang:
Penulis: Sanjaya Ardhi | Editor: Ardhi Sanjaya
Kolase TribunnewsBogor.com
Pengakuan Pencetak Uang Palsu di UIN Makassar, Menyesal Tak Kuasai Mesin 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Produksi uang palsu di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar bisa mencapai Rp 100 juta sekali operasi.

Operator mesin cetak uang palsu bahkan mengaku menyesal karena tak menguasai mesinnya.

Sebab jika menguasai operasional mesin cetakan tersebut, uang palsu yang dihasilkan bisa mencapai triliunan sekali produksi.

lihat fotoBarang bukti kasus peredaran uang palsu di tengah pandemi Covid-19 di wilayah Bogor yang diungkap Kepolisian Polsek Cileungsi.
Barang bukti kasus peredaran uang palsu di tengah pandemi Covid-19 di wilayah Bogor yang diungkap Kepolisian Polsek Cileungsi.

Kapolda Sulses Irjen Pol Yudhiawan Wibisono mengatakan otak dari sindikat uang palsu ini adalah ASS.

Dia seorang pengusaha kaya asal Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

"Tersangka utama sudah kita tahan," katanya.

Seorang tersangka, Syahruna menceritakan tentang produksi uang palsu di UIN Makassar.

Syahruna berperan untuk memproduksi uang palsu.

Baca juga: Akal-akalan Pengedar Uang Palsu di Klapanunggal Bogor, Campur dengan Asli Saat Transfer Lewat Agen

Ia mengatakan uang palsu dalam satu kertas pasti ada yang gagal.

"Banyakan rusak sama warnanya blepotan. Gak ada (diedarkan). Setiap memproduksi sekitar 50-60 persen itu rusak. Jadi ndak semua kita produksi sesuai dengan ini karena peralatan kami masih minim," katanya.

Syahruna mengungkap ada 19 tahapan proses sampai uang palsu benar-benar menjadi sempurna.

"Salah satu saja rusak maka gagal, dibuang. Dari 19 itu harus mulus semua," katanya.

Pencetakan dimulai dari tali air, benang sampai UV.

Sekali produksi mereka membutuhkan modal Rp 300 juta.

Semua bahan dibeli dari China kata Syahruna.

"Satu hari tahap pertama sekitar satu rim, 1.000 lembar. Kalau 200-an satu rim sekitar Rp 100 juta sekali produksi," katanya.

Produksi uang palsu ini dilakukan dalam perpustakaan UIN Makassar.

"Di dalam perpustakaan lantai bawah, dalam kamar mandi. Sengaja disekat untuk aktivitas supaya peredam gak kedengaran. Jendela semua ditutup," katanya.

Biasanya mereka bekerja memproduksi uang palsu saat jam kerja agar tidak dicurigai.

"Terkadang pagi jam 11 sampai jam 5 sore. Menjelang akhir sering lembur sampai pagi.  Kampus ramai cuma kami dianjurkan untuk jam kerja saja. Kalau malam agak bunyi menyimpang, sekuriti sering lewat," katanya.

Produksi uang palsu ini rupanya berkedok cetak brosur kampus.

"Mereka pikir kita cetak brosur kampus. Jadi mereka waktu kita cetak brosur sengaja buka pintu, jadi karyawan lihat oh lagi cetak brosur padahal itu hanya ngetes saja untuk kasih jalan," katanya.

Mesin cetak yang dipakai pun khusus, berbeda dengan yang lain.

"Mesin cetak khusus karena tingkat presisinya lebih tinggi lebih akurat," katanya.

Syahruna menyayangkan belum bisa menguasai operasional mesin.

Sebab menurutnya jika menguasai produksi akan bisa lebih cepat dan sempurna.

Tak ayal kata Syahruna, jika sudah mahir maka mesin itu bisa mencetak uang palsu sampai triliunan.

"Cuma sayangnya belum sempat mahir. Andaikan bisa berjalan kemungkinan 2-3 hari tuh habis bahan itu bisa memproduksi," katanya.

Ikuti saluran Tribunnews Bogor di WhatsApp :

https://whatsapp.com/channel/0029VaGzALAEAKWCW0r6wK2t

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved