Melihat Potret Lawas Lapangan Sempur Kota Bogor, Ada 16 Unit Rumah Warga Eropa

Inilah potret lawas Lapangan Sempur di Kota Bogor yang ternyata dibangun oleh arsitek Belanda pada tahun 1917 silam.

Penulis: Rahmat Hidayat | Editor: khairunnisa
Dokumentasi Taufik Hasunna
FOTO LAWAS BOGOR: Tangkapan layar potret lawas Lapangan Sempur di Kota Bogor yang ternyata dibangun oleh arsitek Belanda pada tahun 1917 silam. 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Rahmat Hidayat

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Lapangan Sempur Kota Bogor yang menjadi tempat favorit warga berolahraga hingga berkumpul ternyata memiliki segudang sejarah yang sangat menarik.

Perjalanan sejarah itu bahkan sudah dimulai sejak tahun 1917.

Seorang arsitek Belanda bernama Herman Thomas Karsten yang memulainya.

Bahkan, ia menyulap, kawasan Sempur menjadi kawasan Eropa. Banyak warga Eropa yang tinggal di Sempur.

Kawasan Sempur dalam pengembangan Karsten saat itu masih asri.

Berdasarkan foto lawas yang diterima, terlihat Sempur hanya diisi oleh beberapa bangunan saja.

Namun, areal lapangan, yang saat ini kerap dijadikan tempat upacara sudah terlihat.

“Sejarah Lapangan Sempur sebenarnya sudah dimulai ketika konsep pengembangan gemeente Buitenzorg kearah Timur,  ditahun 1917 diajukan oleh ir Thomas Karstens,  yang tahun 1916 telah selesai mengajukan rencana pengembangan kota Semarang dan Malang,” kata tim ahli cagar budaya (TACB) Kota Bogor Taufik Hasunna kepada TribunnewsBogor.com di Balai Kota Bogor, Sabtu (3/5/2025).

Untuk Bogor, Karstens mengajukan konsep pengembangan kota disisi kanan sungai Ciliwung, berupa pembangunan perumahan, penyempurnaan jalur lalulintas kota, pembangunan lapangan olahraga atau terbagi empat Zona.

Di Pusat adalah pengembangan Kebun Raya Bogor, ke Timur adalah pemukiman warga Eropa,  di utara dan selatan sepanjang Ciliwung, adalah pemukiman untuk pribumi.  

“Lapangan olahraga sekarang lapangan Sempur, dibangun antara pemukiman warga Eropa dan pemukiman Pribumi sebelah Utara,” ujarnya.

Untuk rumah untuk Warga Eropa sendiri di Sempur hanya berjumlah 16 unit.

Berdasarkan berita media 27 Februari tahun 1929, rapat Dewan Komisaris N. V. Volkshuisvesting Buitenzorg menyetujui pembangunan rumah type kecil di Sempur antara Gem. Ambachtschool atau Sekolah Tehnik sampai jembatan Ciliwung, jembatan gantung. 

12 Rumah rumah ini dimaksudkan untuk penduduk lokal, disewakan antara 10-13 gulden per bulan. 

Untuk warga Eropa, akan dibangun 16 rumah rumah ditimur Taman Kencana, disewakan 40-75 gulden per bulan.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved