Menjaga Harmoni Keberagaman, Habib Jafar: Akulturasi Budaya Kuncinya

Islam yang berkembang di Indonesia memiliki kekhasan yang selaras dengan budaya lokal dan nilai-nilai keislaman. 

Editor: Yudistira Wanne
Istimewa
AKULTURASI BUDAYA - Habib Husein Jafar Al Hadar, atau akrab disapa Habib Jafar saat berbicara soal akulturasi budaya. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Islam yang berkembang di Indonesia memiliki kekhasan yang selaras dengan budaya lokal dan nilai-nilai keislaman. 

Islam Indonesia memiliki karakteristik yang khas karena secara antropologis dan sosiologis disesuaikan dengan budaya Indonesia melalui skema akulturasi. 

"Islam itu disesuaikan dengan budaya Indonesia tanpa mengubah aspek-aspek yang sifatnya mendasar," kata Influencer milenial sekaligus ustaz muda, Habib Husein Jafar Al Hadar, atau akrab disapa Habib Jafar di Jakarta, Kamis (17/7/2025).

Habib Jafar menjelaskan, dalam Hukum Islam, akulturasi atau penyesuaian ini dikenal dengan ‘urf, di mana adat kebiasaan yang baik dapat menjadi hukum, tanpa mengubah aspek-aspek fundamental Islam, baik dari sisi teologi, fikih, maupun tafsir Al-Qur'an dan Sunnah.

Ia mencontohkan, pelaksanaan zakat fitrah di Indonesia menggunakan beras sebagai makanan pokok, berbeda dengan di Arab yang menggunakan gandum atau kurma. 

Hal ini lumrah terjadi karena inti dari zakat fitrah adalah memberikan makanan pokok kepada mereka yang membutuhkan. 

Oleh karena itu, Habib Ja’far menambahkan, perlunya kedewasaan dan kebijaksanaan dalam menerima informasi atau mendengar ceramah dari ulama yang berasal dari luar Indonesia. 

Apakah ceramah tersebut bisa disesuaikan dengan karakter bangsa, atau tidak. Jangan sampai umat malah mudah menghakimi atau memprovokasi orang lain yang tidak sependapat. 

“Akulturasi inilah yang menyebabkan Islam di Indonesia begitu kuat. Meskipun kita dijajah dalam waktu yang lama, nilai-nilai Islam tetap terjaga karena telah berbaur dengan budaya Indonesia itu sendiri,” kata Habib Ja’far.

Alumnus Magister Ilmu Quran dan Tafsir dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini menilai perlunya masyarakat untuk memilah informasi di tengah infiltrasi ideologi transnational dalam konten dakwah di media sosial. 

Pria berdarah Madura dan Arab ini menilai dakwah yang benar bersifat aspirasi, inspirasi, dan rasional. 

Sebaliknya, dakwah yang keliru cenderung menggunakan narasi provokasi, intimidasi dan emosi.

"Kalau nilai-nilai dakwah itu disampaikan dengan provokasi, maka itu sudah jelas bertentangan dengan nilai Islam. Tapi kalau disampaikan sebagai edukasi, maka itu sesuai dengan nilai-nilai Islam," pungkasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved