IPB University

Kaji Marine Debris di Pulau Tidung, Tim Peneliti IPB University Temukan Sampah di Terumbu Karang

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi - Peserta workshop melakukan survei kelautan di Pulau Tidung Kepulauan Seribu belum lama ini.

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Peneliti IPB University yang tergabung ke dalam tim riset marine debris melakukan penelitian di Pulau Tidung Besar dan Tidung Kecil, Kepulauan Seribu.

Penelitian ini terkait keberadaan sampah (debris) di pulau-pulau kecil.

Dr Neviaty P Zamani bersama tim melakukan analisis jenis dan biomassa sampah laut di sejumlah titik yang berada pada ekosistem lamun, terumbu karang, dan mangrove, serta sampah yang berada di pantai.

“Beberapa jenis sampah laut yang ditemukan berupa botol, plastik kemasan, sedotan, styrofoam, karet, logam, kaca, dan lainnya. Pada masa pandemi, banyak ditemukan sampah medis berupa masker dan obat-obatan yang terperangkap pada akar-akar mangrove. Sampah medis juga ditemukan terjebak di padang lamun yang dikelilingi oleh break water (pemecah ombak) di sekeliling pulau,” ujar Dosen IPB University ini.

Selain sampah makro, lanjutnya, kelimpahan dan jenis mikroplastik akan dianalisis lebih lanjut di laboratorium pada sampel air dan sedimen yang telah dipreparasi.

Data ini dibutuhkan untuk mengetahui seberapa besar nilai cemaran mikroplastik di habitat pesisir dan juga tipe plastik apa yang banyak terfragmentasi dalam sedimen ataupun air.

“Kondisi lingkungan yang tercemar tentunya akan berpengaruh pada organisme yang hidup pada habitat tersebut,” jelas staf pengajar di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University ini.

Menurutnya, bagi sebagian penduduk Pulau Tidung, sampah bisa menjadi mata pencaharian dan penghasilan tambahan.

Sampah botol dan minuman kemasan dijual kepada pengumpul dengan harga Rp 7000 per kilogram.

“Saat masa pandemi, sampah botol dan gelas yang terkumpul bisa mencapai 4-8 kuintal per bulan. Sedangkan pada kondisi normal dan banyak wisatawan yang datang, sampah botol dan gelas bisa terkumpul sekitar 8-10 kuintal per bulan,” tuturnya.

Dr Neviaty mengatakan bahwa ada pergeseran mata pencaharian pada sebagian kelompok masyarakat pulau ini.

Dahulu sebagian besar mereka menjadi nelayan ikan.

"Saat sedang maraknya wisata, sebagian besar berubah menjadi pemandu dan pelaku usaha wisata. Sekarang sebagian orang menjadi nelayan sampah,” ujarnya.

Menurutnya, hal ini menjadi ironi karena dahulu sangat mudah menangkap ikan di laut sedangkan sekarang yang paling mudah ditangkap adalah sampah.

Namun begitu, aktivitas mereka sangat membantu dalam menjaga pulau agar tetap bersih dari penumpukan sampah laut.  "Lalu, sampai kapan manusia akan membuang sampah sembarangan,” tutupnya. (*)