Sempat Mengira Kandang Kambing, Camat Menangis Lihat Rumah Seorang Guru di Ngawi: Saya Merasa Gagal

Editor: Vivi Febrianti
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Rumah Sri Hartuti, seorang guru di Ngawi, yang menyatu dengan kandang kambing. Foto kanan : guru Sri Hartuti dan suami.

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Sri Hartuti sudah 17 tahun mengabdi sebagai guru di SD Pandean 4 Ngawi. Namun, statusnya adalah pengajar tidak tetap alias honorer.

Sebulan ia mendapat gaji Rp 350 ribu. Sementara penghasilan suaminya tak tentu sebagai pekerja serabutan di kebun. Jauh di bawah sejahtera.

Mereka pun tinggal di sebuah rumah tak layak huni. Bahkan sempat ada yang menyangka sebagai kandang kambing--memang di sebelah rumah Sri Hartuti ada kandang kambing.

Tak pelak, kondisi miris guru Sri Hartuti tersebut membuat Camat Karanganyar, Nur Yudhi M Arifin menangis.

Padahal, guru Sri Hartuti berjasa mengentaskan buta huruf di kampungnya. Kini, mantan anak didiknya sudah banyak yang sukses. 

Baca juga: Dilaporkan ke Polisi, Oknum Guru di Tuban Diduga Berbuat Asusila ke Anak di Bawah Umur

Ada yang jadi polisi, pengusaha dan banyak juga yang sedang meneruskan kuliah. 

Guru Sri Hartuti tinggal di Dusun Sure, Desa Pandean, di tengah hutan jati di kawasan KPH Ngawi.

Bersama suaminya dan tiga anaknya, ia menempati rumah sederhana berlantai tanah yang menyatu dengan kandang kambing.

Baca juga: Mengintip Tradisi Perguruan Silat Cimande, Basuh Kaki Orangtua Pakai 3 Sumber Mata Air

Dinding dan pintunya terbuat dari anyaman bambu (gedek). Tampak celah-celah menganga di beberapa sisi sehingga angin pun masuk dengan mudah.

Bau tak sedap menyeruak dari kandang kambing yang satu atap dengan rumah.

Halaman
123