Hari Bahasa Isyarat Internasional, Penyandang Tuli di Kota Bogor Ajak Hapus Stigma Buruk Masyarakat

Penulis: Rahmat Hidayat
Editor: Tsaniyah Faidah
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Hari Bahasa Isyarat Internasional di BCC pada Minggu (25/9/2022) untuk memutus paradigma masyarakat kepada teman teman tuli.

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Rahmat Hidayat

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Menyandang kehidupan yang setara merupakan hak setiap insan yang bernyawa.

Kesetaraan kehidupan sesama manusia memang menjadi barang mahal ketika antar manusia saling menjatuhkan dan tidak mendukung.

Tidak hanya hak, kewajiban manusia sering dibantah dan dilabrak oleh manusia itu sendiri.

Hal itu memang terus terlihat semisal bagi para teman-teman penyandang tuli yang ada.

Padahal, teman-teman tuli juga memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan manusia normal pada umumnya.

Hal itu yang dilakukan oleh Museum Penerangan dibawah Kominfo bersama Organisasi Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin) Kota Bogor di Bogor Creative Centre pada Minggu (25/9/2022).

Mereka berkomitmen untuk memutus stiga buruk masyarakat normal terhadap teman-teman tuli lewat acara yang dikemas dalam rangka Hari Bahasa Isyarat Internasional 2022.

Mulai dari workhsop teman dengar dan teman tuli, museum foto-foto, serta bazar UMKM disediakan di BCC ini yang bisa dihadiri oleh masyaramat umum.

"Acaranya ini advokasi untuk masyarakat lebih sadar contohnya ada dari ortu dengar punya anak tuli jadi ga menutup anaknya tuli belajar bahasa isyarat. Jadi, lebih sadar. Kemudian ada workshop. Supaua tau temen tuli berkomunikasi. Jadi, menghapus stigma teman teman tuli di masyarakat umum padahal sama aja," kata Ketua DPC Gerkatin Kota Bogor Novita Pangestika kepada TribunnewsBogor.com di BCC, Minggu (25/9/2022).

Novita melanjutkan, acara yang bisa diikuti umum ini pesan dari teman-teman tuli bisa disampaikan kepada masyarakat.

Pesan-pesan yang harus terus digaungkan kepada masyrakat umum bahwa teman-teman tuli memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam berkehidupan di masyarakat.

"Peringatan ini yang kedua kali. Terakhir tahun 2019. Saat ini diikuti oleh ratusan masyarakat umum. Tidak hanya tuli. Saya berharapnya masyarakat tidak takut untuk berkomunikasi dengan kami (teman-teman tuli)," ungkapnya.

"Sekaligus juga kita bertukar ilmu. Jadi, sama-sama bermanfaat," imbuhnya.

Halaman
12