Rupiah Anjlok tapi Mal Tetap Diserbu, Benarkah Indonesia Alami Lipstick Effect? Ini Kata Pakar

Istilah lipstick effect yang dikaitkan dengan kondisi perekonomian bangsa yakni masyarakat tetap meramaikan mal meskipun rupiah tengah anjlok.

Tayang:
Editor: khairunnisa
TribunnewsBogor.com/Siti Fauziah Alpitasari
MAL RAMAI MESKI RUPIAH ANJLOK: Ilustrasi kondisi mal di Bogor. Istilah lipstick effect yang dikaitkan dengan kondisi perekonomian bangsa yakni masyarakat tetap meramaikan mal meskipun rupiah tengah anjlok. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Viral istilah lipstick effect yang dikaitkan dengan kondisi perekonomian bangsa.

Ya, belakangan ramai dibahas di media sosial soal kondisi pusat perbelanjaan, restoran, dan kafe di Indonesia yang masih ramai meski nilai tukar Rupiah terus melemah terhadap dollar AS. 

Unggahan tersebut menyebut, masyarakat Indonesia tetap aktif berbelanja, mengantre kopi, hingga membeli makanan dan minuman premium di tengah kondisi ekonomi yang dinilai sedang sulit. 

“Kalian ngerasa enggak sih, mal masih rame, antrean kopi masih panjang, restoran masih penuh. Padahal rupiah lagi di titik terlemah sepanjang sejarah dan ekonomi lagi susah. Nama fenomena ini adalah lipstick effect. Dan ini justru sinyal bahaya,” tulis akun X @T***** pada Minggu (17/5/2026). 

Seperti diketahui nilai tukar Rupiah sempat mencapai Rp 17.660 per dollar AS pada Rabu (20/5/2026), yang menjadi salah satu titik terlemah dalam beberapa hari terakhir. 

Lantas, apakah kondisi tersebut benar menunjukkan Indonesia sedang mengalami lipstick effect

Baca juga: Harta Kekayaan Gubernur BI yang Diminta Mundur Oleh Primus Yustisio, Disorot Gara-gara Rupiah Anjlok

Pengertian Lipstick Effect

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin, menjelaskan lipstick effect pada dasarnya merupakan aktivitas semu untuk menutupi kondisi sebenarnya. 

Lipstick effect itu artinya melakukan sesuatu yang semu untuk menutupi kondisi yang sebenarnya,” terangnya, saat dihubungi Kompas.com, Selasa (19/5/2026). 

Istilah tersebut pertama kali populer pada 2001 dan dikaitkan dengan Leonard Lauder, petinggi perusahaan kosmetik Estee Lauder. 

Dilansir dari Forbes, Leonard Lauder menggunakan istilah lipstick effect untuk menggambarkan kecenderungan masyarakat membeli barang mewah berukuran kecil seperti lipstik saat ekonomi sedang lesu atau resesi. 

Namun, menurut Eddy, fenomena yang ramai dibahas di media sosial saat ini tidak sepenuhnya tepat disebut sebagai lipstick effect

“Kalau fenomena yang disebutkan di unggahan tampaknya bukan lipstick effect, tetapi lebih kepada lifestyle,” ujarnya. 

Lebih lanjut, Eddy menilai kebiasaan atau gaya hidup masyarakat tidak bisa berubah secara instan meski kondisi ekonomi mengalami tekanan. 

“Kebiasaan seseorang atau masyarakat tidak bisa berubah begitu saja meskipun keadaan berubah, misalnya inflasi impor meningkat karena depresiasi mata uang,” jelas dia. 

Menurut Eddy, aktivitas seperti berbelanja di mal atau nongkrong di kafe bisa jadi merupakan bentuk gaya hidup yang sudah melekat di masyarakat Indonesia. 

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved