Menbud Sebut Banyak Artefak Kerajaan Pajajaran yang Tercecer, Ada di Inggris hingga Ada yang Hilang
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon mengatakan bahwa banyak artefak peninggalan Kerajaan Pajajaran yang tercecer.
Penulis: Naufal Fauzy | Editor: Vivi Febrianti
Ringkasan Berita:
- Banyak artefak Kerajaan Pajajaran tercecer — sebagian ada di luar negeri, bahkan ada prasasti yang hilang sejak sebelum kemerdekaan
- Naskah kuno Sunda tertua, Bujangga Manik, justru tersimpan di Oxford sejak abad ke-15 — Indonesia kini berupaya membuat replikanya
- Museum Pajajaran akan jadi “puzzle sejarah” Sunda, mengumpulkan kembali jejak prasasti dan manuskrip yang lama terpisah
TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon mengatakan bahwa banyak artefak peninggalan Kerajaan Pajajaran yang tercecer.
Ada di antaranya yang justru berada di luar negeri.
Ada pula di antaranya yang bahkan hilang puluhan tahun entah kemana.
Hal ini dikatakan Fadli Zon dalam acara pameran keris dan kujang Pasundan di Museum Pajajaran, Kota Bogor, Rabu (5/2/2026) yang terpantau baru beberapa ruangan museum yang dipamerkan.
Sebab masih akan ada koleksi-koleksi lain yang akan ditambahkan ke museum yang terpantau lokasinya dekat Prasasti Batutulis ini.
"Banyak sekali sebenarnya artefaknya yang juga tercecer," kata Fadli Zon.
Dia mengatakan bahwa ada naskah kuno asli yang berada di Oxford University, yaitu Bujangga Manik.
Naskah kuno itu berasal dari tahun 1400 - 1500 Masehi.
"Di Inggris itu ada naskah yang paling kuno, di Oxford University. Itu adalah manuskrip Bujangga Manik, itu dari tahun 1400 - 1500-an, itu naskah aslinya," katanya.
Untuk menambah koleksi Museum Pajajaran, Fadli mengatakan akan diupayakan setidaknya dibuat replikanya.
"Jadi mungkin kita bisa mintakan juga digitalnya, jadi kita bisa buat kembali replikanya itu dari daun lontar," kata Fadli Zon.
Naskah kuno tersebut, kata dia, menceritakan seorang pangeran dari Pakuan Pajajaran yang melalukan perjalanan ke berbagai tempat.
Menggunakan daun lontar, naskah Bujangga Manik ini jumlah halamannya mencapai 40 lontar.
"Cukup banyak naskah-naskah lain. Ada juga dipamerkan di sini (Museum Pajajaran), Kidung Sundayana, Siksakandang Karesian yang sudah menjadi memory of the world Unesco," katanya.
"Dan beberapa naskah-naskah Sunda lain yang cukup banyak seperi Amanah Galunggung, Carita Parahyangan dalam bentuk lontar, tapi kalau gak salah di sini hanya ada dua nanti akan dipamerkan," katanya.
Terpantau dekat Museum Pajajaran, terdapat Prasasti Batutulis yang merupakan peninggalan Kerajaan Pajajaran.
Area prasasti ini berdampingan langsung dengan museum.
Masih ada prasasti-prasasti lain yang tersebar di wilayah Bogor.
Namun diantaranya ada pula prasasti yang hilang entah kemana.
"Prasasti-prasasti di Indonesia ini yang termasuk awal juga termasuk dari Bogor ini. Seperti Batutulis, jauh sebelum itu ada namanya Prasasti Ciaruteun, Prasasti Kebon Kopi 1," kata Fadli Zon.
"Ada Prasasti Kebon Kopi 2, tapi prasasti Kebon Kopi 2 hilang sampai sekarang, sejak puluhan tahun lalu, sejak sebelum kemerdekaan sudah hilang. Kemudian ada prasasti Jambu di Nanggung, kemudian kemarin kita baru angkat lagi Prasasti Cianten dari Sungai Cianten - Cisadane, dan mungkin masih banyak nanti temuan-temuan lain yang menjadi puzzle atau rangkaian dari sejarah awal Sunda termasuk sejarah kehidupan Bogor dan sekitarnya yang bisa digambarkan di museum ini," ungkapnya.
| Asal Usul Makam Pahlawan Tak Dikenal di Alun-Alun Kota Bogor, Banyak Jasad yang Sudah Tidak Dikenali |
|
|---|
| Banyak Cat Zebra Cross Pudar, DPRD Kota Bogor Dorong Dishub Ajukan Anggaran Perawatan |
|
|---|
| Menguak Asal Usul Gang Aut, Kawasan Kuliner Legendaris di Kota Bogor |
|
|---|
| Sungai Ciparigi di Tegallega Bogor Diduga Tercemar Limbah Mal dan Hotel, Warga Cium Bau Tak Sedap |
|
|---|
| Soal Perwali Angkot Tua di Kota Bogor, Dishub Tegas: Mau Mengandangkan Sendiri atau Dikandangkan |
|
|---|