Curhatan Pedagang di Pasar Bogor, Berat Pindah ke Jambu Dua karena Sewa Mahal dan Tak Ada Modal
PKL Pasar Bogor dilema karena biaya sewa kios di lokasi relokasi Pasar Jambu Dua dianggap terlalu mahal sementara mereka tak memiliki modal.
Penulis: tsaniyah faidah | Editor: Tsaniyah Faidah
Ringkasan Berita:
- PKL di Jalan Pedati dan Jalan Roda boleh berjualan di bahu jalan hanya sampai Lebaran 2026, setelah itu wajib pindah.
- Banyak pedagang ragu pindah ke Pasar Jambu Dua karena merasa biaya sewa kios mahal dan lokasinya dianggap terlalu jauh.
- Pemerintah memberikan diskon sewa 20 persen dan menggratiskan biaya sewa selama tiga bulan pertama di lokasi baru.
TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Kondisi kawasan Jalan Pedati dan Jalan Roda, yang berada di sekitar gedung Pasar Bogor dan Plaza Bogor, hingga kini masih menjadi persoalan pelik bagi Pemerintah Kota Bogor.
Meskipun gedung pasar tersebut sedang dalam proses pembongkaran, ratusan Pedagang Kaki Lima (PKL) sayur-mayur masih memilih untuk bertahan dan menggelar lapak di bahu jalan hingga trotoar.
Keberadaan para pedagang ini berdampak pada kondisi estetika kawasan Suryakencana yang dinilai menjadi kumuh.
Selain itu, arus lalu lintas di jalur tersebut sering mengalami hambatan karena penyempitan badan jalan, ditambah dengan pejalan kaki yang kehilangan haknya atas fungsi trotoar.
Pemerintah Kota Bogor sebenarnya sudah mengarahkan para PKL ini untuk segera mengisi lapak di Pasar Jambu Dua.
Namun, instruksi tersebut tidak langsung diikuti oleh seluruh pedagang karena adanya kendala finansial.
Berdasarkan data yang dihimpun, harga sewa los di Pasar Jambu Dua dibanderol maksimal Rp32 Juta per meter untuk masa sewa 20 tahun.
Sementara untuk kios dipatok maksimal Rp37 Juta untuk durasi yang sama.
Meskipun biaya tersebut dapat dicicil per bulan, bagi pedagang kecil hal itu tetap menjadi beban berat.
Wawan, salah satu PKL sayur di kawasan tersebut, mengungkapkan keraguannya untuk pindah.
"Saya pindah ke Jambu Dua belum pasti, masih mikir-mikir, kejauhan juga kan saya tinggal di sini. Mikiran modal, sewanya mahal kan," tuturnya kepada TribunnewsBogor.com, pada Rabu (18/2/2026).
Kesulitan modal menjelang bulan Ramadan menjadi alasan utama Wawan dan rekan-rekannya tetap nekat berjualan di pinggir jalan.
Ia mengklaim bahwa sementara waktu mereka masih diperbolehkan berjualan di sana.
"Sementara boleh sampai Lebaran. Setelah lebaran diminta pindah semua ke Pasar Jambu Dua," tambah Wawan.
Kebijakan Diskon dan Batas Waktu dari Perumda Pasar
Baca juga: Kronologi Pengemudi Mobil Tabrak Pagar Rumah Jusuf Kalla, Kini Ganti Rugi Rp 25 juta
Pihak Perumda Pasar Pakuan Jaya (PPJ) Kota Bogor mengonfirmasi adanya kesepakatan mengenai batas waktu tersebut.
Direktur PPJ, Jenal Abidin, menyebutkan bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan tokoh serta perwakilan PKL.
Berdasarkan hasil komunikasi, para pedagang meminta waktu untuk tetap berada di lokasi tersebut hingga Idul Fitri 2026.
“Mereka minta waktu sampai 23 Maret atau sampai lebaran,” ujar Jenal Abidin.
Meski memberikan kelonggaran waktu, PPJ tetap mengimbau agar para pedagang segera bersiap pindah demi keselamatan dan kelancaran pembangunan.
Pasalnya, proses pembongkaran gedung Pasar Bogor saat ini terus berjalan dan ditargetkan rata dengan tanah pada Agustus 2026 mendatang.
Jenal mengkhawatirkan aktivitas perdagangan di bawah gedung yang sedang dibongkar dapat membahayakan pedagang akibat jatuhnya puing-puing bangunan.
Untuk menarik minat 800 PKL yang terdampak, Perumda Pasar menyiapkan berbagai insentif di Pasar Jambu Dua, yang saat ini masih memiliki 900 unit kios dan los kosong.
"Kami dari Perumda Pasar menyiapkan tempat di Pasar Jambu Dua, gratis sewa 3 bulan, diskon harga 20 persen dari PT BAM," jelas Jenal.
Masalah Kebersihan dan Penataan Kawasan
Di sisi lain, persoalan lingkungan menjadi sorotan tajam.
Pada Senin (16/2/2026), Menteri Hanif Faisol Nurofiq sempat menghadiri agenda bersih-bersih Gerakan Indonesia ASRI di Jalan Pedati dan Jalan Roda.
Baca juga: Dilema PKL Pasar Bogor Ogah Pindah ke Jambu Dua, Keluhkan Modal Sewa Meski Ada Diskon 20 Persen
Saat itu, petugas gabungan dari DLH, BPBD, dan Damkar dikerahkan untuk membersihkan sampah serta menyemprot pedestrian agar steril dari kekumuhan.
Namun, hanya berselang dua hari setelah aksi bersih-bersih tersebut, tumpukan sampah kembali terlihat berserakan di lokasi pada Rabu (18/2/2026).
Sampah plastik dan sisa sayuran menumpuk di jalanan akibat tingginya aktivitas belanja warga menjelang Ramadan.
Kondisi ini membuat kawasan yang sebenarnya sudah diminta steril sejak akhir Januari oleh Wali Kota Bogor, Dedie Rachim, kembali terlihat kotor.
Pemerintah Kota Bogor berharap, dengan adanya program diskon sewa dan batas waktu hingga Lebaran nanti, Jalan Pedati dan Jalan Roda bisa kembali tertata rapi sesuai fungsinya setelah para pedagang resmi beralih ke Pasar Jambu Dua.
Ikuti saluran Tribunnews Bogor di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaGzALAEAKWCW0r6wK2t
| Museum Pajajaran Batutulis Tetap Dibuka Saat Hari Jadi Bogor ke-544, Koleksi Masih Sedikit |
|
|---|
| Prakiraan Cuaca Bogor Selasa 12 Mei 2026: Siang Panas, Sore hingga Malam Berpotensi Hujan Lebat |
|
|---|
| Kondisi Suporter Persib dan Persija Usai Bentrok di Jalan Sholis Bogor, Alami Luka-luka |
|
|---|
| Mobil Bergantian Melintas di Jalan Manunggal Bogor, Warga Minta Petugas Atur Lalu Lintas |
|
|---|
| Cuaca Kota Bogor Hari Ini Senin 11 Mei 2026, Hujan Ringan dari Siang hingga Malam Secara Merata |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/Curhatan-Pedagang-di-Pasar-Bogor.jpg)