Pemkot Bogor Kawal SPMB 2026/2027, Dedie Rachim Minta Disdukcapil Sampai Lurah Cek Kartu Keluarga

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor akan mengawal proses seleksi penerimaan murid baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027 jenjang SD dan SMP.

Tayang:
Penulis: Rahmat Hidayat | Editor: Vivi Febrianti
TribunnewsBogor.com/Rahmat Hidayat
SMPB KOTA BOGOR - Wali Kota Bogor Dedie Rachim saat dijumpai di Balai Kota Bogor dan menjelaskan soal SPMB, Selasa (12/5/2026). 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Rahmat Hidayat

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor akan mengawal proses seleksi penerimaan murid baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027 jenjang SD dan SMP.

Untuk SPMB SMP ada empat jalur yakni afirmasi, domisili, prestasi dan mutasi. 

Sedangkan SD yakni domisili, afirmasi, dan prestasi.

Wali Kota Bogor Dedie Rachim mengatakan, hal ini dilakukan untuk menghindari kecurangan-kecurangan yang selama ini terjadi.

“Yang pasti kita ingin menghindari adanya kecurangan-kecurangan dimana selama ini ada yang pindah KK kemudian pindah domisili dan lain sebagainya,” kata Dedie Rachim kepada TribunnewsBogor.com di Balai Kota Bogor, Selasa (12/6/2026).

Dedie Rachim tidak menginginkan adanya transaksional dalam SPMB ini.

Transaksional ini dinilai sangat merugikan orang lain.

“Kita melaksanakan prioritas-prioritas sesuai dengan metode pembagian siapa saja yang mungkin nanti bisa masuk ke dalam sekolah sekolah negeri yang ada di wilayah Kota Bogor sesuai dengan aturan dan ketentuan,” ujarnya.

Dedie Rachim sudah memerintahkan beberapa dinas salah satunya Disdukcapil untuk lebih ketat dalam administrasi kartu keluarga (KK).

Disdukcapil juga harus mengecek dan memastikan siapa saja yang nekad memindahkan KK.

“Tadi sudah dipaparkan oleh Pak Disdukcapil sudah ditracing (lacak), dan sudah dimaping. Mereka yang memang memindahkan kartu keluarga karna ada motif mendekatkan ke sekolah tujuan kan sudah terbaca,” ujarnya.

“Kemudian saya minta lurah, camat juga melihat lagi kartu keluarga yang dipindahkan ini apakah benar ada rumahnya atau ditumpangkan di warung,” tambahnya.

Dedie Rachim tidak menampik bahwa kecurangan pada SPMB di setiap tahunnya selalu sama.

Terutama soal KK yang kerap dimanipulasikan oleh keluarganya masing-masing.

Titik domisili bisa dimainkan dengan cara membuat lokasi yang dekat dengan sekolah tujuan.

“Yang sudah-sudah kan begitu. Zaman dulu ada di lapangan kosong, ada di kantor kelurahan dan seterusnya. Ini sudah coba kita tracing dan butuh bantuan dari kelurahan dan camat,” ujarnya.

Dedie Rachim berharap, SPMB berjalan dengan adil.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved