Bocah Diperkosa Anak SD

Kasus 6 Bocah Diduga Gagahi Temannya, Psikolog Sebut Kurang Pengawasan Orang Tua

Menurut psikolog, jika kasus tersebut bukan sepenuhnya salah anak-anak itu.

Penulis: Mohamad Afkar Sarvika | Editor: Damanhuri
TribunnewsBogor.com/Mohamad Afkar Sarvika
Psikolog, Dra Ida Chrysanti 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Mohamad Afkar Sarvika

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CIBINONG - Kasus pelecehan seksual yang dilakukan enam bocah terhadap teman sebayanya mendapat sorotan dari banyak pihak.

Tak terkecuali seorang Psikolog, Dra Ida Chrysanti.

Menurutnya, kasus yang sepenuhnya dilakukan oleh anak dibawah umur itu sangat memprihatinkan.

Seperti diketahui, enam bocah yang melakukan tindakan senonoh terhadap korban masih berusia antara 6 sampai 11 tahun.

Baca: Kisah Dibalik Penangkapan Pria Diduga Cekoki Video Porno ke Anak SD, Gadis 8 Tahun Digilir

Enam bocah tersebut nekat melakukan aksinya lantaran disinyalir sudah beberapa kali dicekoki tontonan video porno oleh seorang lelaki yang masih tetanggaan dengan mereka.

"Ini bisa dibilang miris, karena kok bisa anak-anak kecil melakukan aksi senonoh terhadap teman bermainnya juga," ujar Ida saat dihubungi TribunnewsBogor.com, Kamis (1/3/2018).

Dia mengatakan bahwa kasus tersebut bukan sepenuhnya salah anak-anak. Melainkan kurangnya pengawasan orang tua terhadap anak menjadi penyebab utama terjadinya kasus tersebut.

"Seharusnya sebelum kejadian, orang tua tahu tindakan anaknya yang menurut informasi memang pernah diajak nonton film porno," katanya.

Baca: Masih Ceria Hingga Sempat Berpose Cantik, Inilah Video Sridevi di Pesta Sebelum Meninggal Dunia

Sehingga, kata dia, orang tua bisa mengarahkan dan mengingatkan anak-anaknya bahwa menonton film porno adalah tindakan yang salah.

"Namanya juga anak, kan masih polos istilahnya, jadi bisa saja yang dianggap salah jadi benar, kalau orang tua tidak tahu ya anak yang bersangkutan akan beranggapan tindakan yang dilakukan itu benar," paparnya.

Dia pun menyayangkan, peran orang tua pelaku dinilai kurang maksimal dalam mengawasi segala aktivitas anaknya sehari-hari.

"Harusnya kan bisa dicegah, entah anak itu keceplosan pernah nonton film porno, atau memang melihat anaknya diajak lelaki dan ada gerak-gerik mencurigakan, berarti kan kembali ke pengawasan orang tuanya," pungkasnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved